Archive for March, 2010

PELAN-PELAN SAJA; UNTUK SEORANG TEMAN

Tuesday, March 23rd, 2010

PELAN-PELAN SAJA; UNTUK SEORANG TEMAN

Lelaki itu terhenyak, berkali-kali dia menghela nafas panjang, menarik oksigen sebanyak mungkin. Lalu menghembuskan dengan pelan melalui mulutnya yang kelu seolah-olah sedang mengeluarkan asap rokok, sementara disampingnya sebatang rokok dibiarkan menyala diatas asbak tidak tersentuh.

Batangan rokok itu sepertinya tidak menarik lagi untuk diisap. Lelaki itu sibuk dengan gundah hatinya. Sudah hampir satu bulan dia kehilangan gairah, hidupnya menjadi monoton setiap hari penuh dengan gelegak hati yang tak menentu bercampur dengan resah isi kepala yang membuncah menerjang isi batok kepala dan selalu menyeret kepada satu kenangan masa lalu

“Semua ini terlalu cepat”, pikirnya sembari mengadili dirinya.

Kembali lelaki itu menyesali keadaan yang terjadi lalu mengulang lagi ketertegunannya. Memandangi dengan tatapan mata tidak jelas terkadang genangan airmata mengisi pelupuk matanya. Tangannya seolah kaku, tidak mampu untuk memantik imajinasi, gagal menjadi katalisator otaknya untuk merangkai gagasan kedalam lembaran kertas.

Sejak keadaan itu berubah 180 derajat, semuanya menjadi stagnan. Lelaki itu kehilangan jati dirinya. Dia yang biasanya kuat tiba-tiba ambrol seperti longsoran tanah di musim hujan. Longsor tanpa hadangan sedikitpun sampai ke tempat paling rendah. Menerjang semua keakuannya, mematikan keteguhan hatinya.

“Beginilah cinta, deritanya tiada akhir”, dia berguman, menirukan tokoh Cu Pat Kay dalam film serial Sun Go Khong. Sesaat dia sadar, bahwa ini bukanlah kisah sinetron ini adalah kenyataan, tapi hatinya selalu tidak dapat dibohongi. Sosok perempuan itu begitu imajinatif, mampu menyentuh relung hati yang terdalam.

“Tidak seharusnya aku membuka hati”, sesalnya berkali-kali.

“aku tidak mengindahkan peringatan yang berkali-kali disampaikan nuraniku, bahwa aku tidak boleh membuka hati”, kembali ingatan itu menghujam dirinya, laksana seorang Gladiator yang terhujam pedang para Warrior Roma.

Kesadaran itu datang terlambat. Kini saatnya lelaki itu menerima hatinya terluka karena berani jatuh cinta. Terluka karena saat cinta itu menyeruak, saat itu pula perpisahan menjadi ujung cerita. Dan butuh waktu panjang untuk dia bangkit kembali menjadi seperti sedia kala.

…Lepaskanlah ikatanmu dengan aku

Biar kamu senang

Bila berat melupakan aku

Pelan-pelan saja…

Reffrain lagu Kotak Band yang berjudul “pelan-pelan saja” terdengar sayup-sayup dari MP3. Seolah mewakili pernyataan perempuan itu dan menghantarkan si lelaki kedalam sesalnya semakin dalam, entah sampai kapan. (230310)

Pendobrak itu Telah Berpulang; (Mengenang Wahyu)

Saturday, March 20th, 2010

Pendobrak itu Telah Berpulang .
(Mengenang  Wahyu)

————————————-

Oleh: Mokhtar

Perkenalanku dengan Wahyu tidak cukup lama,  pertama kali di Kongres IPNI di Makasar tahun 2007  Kemudian kita  sering ketemu dan terakhir kali pada pertemuan pembentukan Jothi di Jakarta.  Dari interaksi itu saya mempunyai kesan anak muda yang energik,  visioner, prespektif dan disiplin.

Saya mengenalnya Wahyu dari Bali, karena itu ketika Saudara Patri sms sekitar jam 12 malam  dengan nama I Gusti Ngurah Wahyunda telah berpulang ke sisi Tuhan Yang Esa. Saya mencoba telpon untuk tanya siapa I Gusti Ngurah Wahyunda ? Tidak terjawab.  Virus ngantuk menyebabkan saya tidak ‘nge’ kalau  yang meninggal saudara  Wahyu, tertutup oleh  tulisan I Gusti Ngurah, nama  dalam kasta Bali mempunyai tingkatan  tinggi.  Apalagi dalam perkenalan mengatakan ‘panggil aku Wahyu’ tanpa menyebutkan embel-embel  I Gusti sebagaimana kebanyakan orang yang bangga dengan kastanya.  Saya jadi teringkat dari seorang sahabat yang mengatakan : “Jika kita sepakat dengan egalitarianisme, mulailah dari hal yang kecil. Mulailah dengan memanggil nama secara setara.”

Wahyu dalam bicaranya cukup tegas, bersikap dan punya pandangan yang melebihi dari kebanyakan kawan-kwan pekerja HIV.  Sikpanya melebihi yang pernah aku lihat dari kebanyakan   orang  yang mencoba mengekploatasi sakitnya agar bisa mendapatkan kuntungan pribadi. Saudara Wahyu  memperlihatkan perlawanan dari  kebanyakan orang, tidak mengeluh dan mengekploatasi sakitnya. Ia tetap tegar, dispilin pada garis organisasi,  tanpa mengeluh dengan sakit sebagai alasan.

(more…)

Berbaringlah, Kawan. Berbaringlah dengan Tenang..

Saturday, March 20th, 2010

Berbaringlah, Kawan. Berbaringlah dengan Tenang..

oLEH: aNTON mUHAJIR

Wahyu

Seorang kawan telah berpulang. Ketika membaca SMS Gendo dan Moyong, Sabtu pagi lalu pukul 5.30an Wita, aku hanya bisa menyesali diri. Aku seharusnya di sana. Ikut mengantarkan akhir hidup seorang kawan itu, Wahyunda. Dia kembali menghadap Sang Hyang Widhi untuk entah kapan akan kembali bereinkarnasi.

Jumat malam sekitar pukul 8, aku mendapat SMS dari Gendo. Dia mengabarkan kondisi Wahyu yang kritis di Rumah Sakit Sanglah. Wahyu sudah dirawat di Sanglah sejak tiga minggu sebelumnya karena diare dan komplikasi lain-lain. Aku ingin ke Sanglah malam itu. Tapi niat ini aku batalkan karena kepalaku pusing bukan kepalang.

“Aku besuk besok sore saja,” jawabku pada Gendo. Tapi, belum aku sempat membesuk lagi, Wahyu telah pergi.

~

I Gusti Ngurah Wahyunda, biasa kami panggil Wahyu, yang kukenal adalah seorang pejuang. Dia yang selama ini ada di barisan paling depan dalam perjuangan mewujudkan keadilan untuk korban narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Napza) di Bali, bisa jadi juga di Indonesia. Bersama beberapa pecandu dan mantan pecandu dia mendirikan Ikatan Korban Napza (IKON) Bali. Dia jadi koordinator IKON sekaligus yang hampir selalu jadi Koordinator Lapangan (Korlap) ketika IKON melakukan aksi.

(more…)