Berbaringlah, Kawan. Berbaringlah dengan Tenang..


Berbaringlah, Kawan. Berbaringlah dengan Tenang..

oLEH: aNTON mUHAJIR

Wahyu

Seorang kawan telah berpulang. Ketika membaca SMS Gendo dan Moyong, Sabtu pagi lalu pukul 5.30an Wita, aku hanya bisa menyesali diri. Aku seharusnya di sana. Ikut mengantarkan akhir hidup seorang kawan itu, Wahyunda. Dia kembali menghadap Sang Hyang Widhi untuk entah kapan akan kembali bereinkarnasi.

Jumat malam sekitar pukul 8, aku mendapat SMS dari Gendo. Dia mengabarkan kondisi Wahyu yang kritis di Rumah Sakit Sanglah. Wahyu sudah dirawat di Sanglah sejak tiga minggu sebelumnya karena diare dan komplikasi lain-lain. Aku ingin ke Sanglah malam itu. Tapi niat ini aku batalkan karena kepalaku pusing bukan kepalang.

“Aku besuk besok sore saja,” jawabku pada Gendo. Tapi, belum aku sempat membesuk lagi, Wahyu telah pergi.

~

I Gusti Ngurah Wahyunda, biasa kami panggil Wahyu, yang kukenal adalah seorang pejuang. Dia yang selama ini ada di barisan paling depan dalam perjuangan mewujudkan keadilan untuk korban narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (Napza) di Bali, bisa jadi juga di Indonesia. Bersama beberapa pecandu dan mantan pecandu dia mendirikan Ikatan Korban Napza (IKON) Bali. Dia jadi koordinator IKON sekaligus yang hampir selalu jadi Koordinator Lapangan (Korlap) ketika IKON melakukan aksi.

IKON pula yang mempertemukan kami dalam satu tempat perjuangan meski aku sekadar penggembira di sana. Wahyu dengan gaya yang kadang-kadang over confidence jadi penggerak utama para korban Napza di Bali untuk berani menuntut perlindungan hak asasi manusia (HAM) bagi mereka.

Ini bukan hal mudah, menurutku. Hampir semua korban Napza, termasuk pada pengguna Napza suntik (penasun) atau injecting drug user (IDU) yang kukenal adalah orang-orang yang pada awalnya merasa wajar diperlakukan tidak manusiawi. Mereka dengan pasrah menerima siksaan seperti pemukulan, disundut rokok, diancam tembak, dan seterusnya dari polisi karena merasa telah melakukan tindak kriminal.

Padahal seharusnya tidak. Banyak aturan yang menjelaskan bahwa pada kondisi apa pun tak ada alasan yang memperbolehkan setiap manusia kehilangan hak bebas dari penyiksaan. Hak bebas dari penyiksaan adalah hak asasi, hak setiap orang yang melekat sejak lahir. Hak ini pula yang dimiliki korban Napza.

Wahyu dan kawan-kawan di IKON adalah orang-orang yang terus menerus melakukan upaya agar korban Napza juga tetap mendapatkan perlindungan HAM.

~

Perkenalanku dengan Wahyu, seperti halnya perkenalanku dengan banyak teman lain di isu HIV/AIDS dan Napza di Bali, bermula ketika aku membantu media advokasi HIV/AIDS dan Napza, Kulkul. Karena sering ngobrol dan menulis isu-isu HIV/AIDS ini aku lebih akrab pula dengan mereka. Begitu pula dengan Wahyu.

Tapi kami makin akrab ketika Wahyu dan beberapa teman lain mendirikan IKON sekitar Juni 2006. IKON sendiri lahir, setahuku, sebagai bagian dari lahirnya gerakan di kalangan IDU di Indonesia lewat Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI). Lahirnya PKNI bisa disebut momentum bersejarah dalam gerakan korban Napza. Sebab setelah itu muncullah jaringan sejenis di berbagai daerah seperti IKON dan East Java Action.

Gerakan-gerakan di kalangan IDU ini memang berawal dari maraknya program pengurangan dampak buruk (harm reduction) di Indonesia. Karena itu, sebagian besar gerakan IDU itu lahir dari rahim lembaga pelaksana harm reduction di Indonesia. IKON, misalnya, lahir dari Yayasan kesehatan Bali (Yakeba) yang melaksanakan harm reduction di Bali. Di Jakarta ada Stigma dan Forkon. Di Semarang ada Performa. Dan seterusnya.

IKON lahir tak bisa dilepaskan dari adanya PKNI. Aku inget ketika bertemu di ruangannya saat itu. “Aku mau membuat pergerakan untuk perlindungan HAM bagi pecandu. Aku butuh dukunganmu,” katanya saat itu. Kami duduk di ruangannya, tempat Manajer Program Yakeba. Selain dia, di ruangan seukuran sekitar 3×3 meter persegi ini juga ada Ayu, Bendahara Yakeba.

Semangat utama gerakan ini memang mengadvokasi korban Napza yang selama ini jadi korban tindak kekerasan oleh polisi. Wahyu sendiri beberapa kali mengalaminya. Ini cerita dia yang pernah aku tulis.

“Aku pernah ditangkap polisi lalu dibawa ke salah satu pos polisi di dekat jalan raya di daerah Diponegoro Denpasar. Aku dimasukkan di satu ruangan berukuran sekitar 2×2 meter persegi. Itu memang ruangan untuk interogasi. Ruangannya pengap.

Aku duduk di kursi berhadapan dengan tekek. Setiap kali mereka bertanya dan aku menjawab, mereka akan mengatakan jawabanku tidak benar. Lalu mereka akan memukul. Pokoknya setiap kali aku menjawab pertanyaan mereka, mereka akan bilang, “Ngomong aja kamu..” sambil memukul.

Wajahku sampai bengkak dipukulin. Mata berdarah-darah. Ketika bajuku dibuka, ARV (anti retroviral, obat untuk orang yang kena AIDS)-ku jatuh. Barulah polisinya tahu kalau aku positif HIV. Polisi itu lalu cuci tangan. Dia tidak lagi memakai tangan kosong untuk memukul tapi pakai kayu.”

Cerita semacam itu hal biasa di kalangan IDU. Mereka sering jadi korban.

Wahyu memintaku untuk membantunya terutama untuk kampanye dan dokumentasi. Aku mengiyakan. Lalu kami mulai mengumpulkan satu per satu orang yang bisa diajak bersama dalam barisan ini.

Kami meminta Wayan “Gendo” Suardana, untuk ikut serta di IKON terutama untuk advokasi. Bersama teman-teman lain seperti Adi Mantara, Yusuf Rey Noldy, Ayu Fatmawati, Raden Danu, Novian, Dayu Rupini, Mega, Yeni, Gung Q, dan banyak lagi, kami memulai upaya ini.

Ada empat program utama IKON untuk mewujudkan perlindungan HAM bagi korban Napza itu: penyadaran, kampanye, advokasi, dan dokumentasi. Penyadaran untuk menggugah IDU sendiri agar sadar tentang HAM. Kampanye untuk publik tentang perlunya perlindungan HAM pada korban Napza. Advokasi lebih ditujukan pada pemerintah agar membuat peraturan yang melindungi korban Napza. Sedangkan dokumentasi untuk mengumpulkan pelanggaran HAM yang terjadi di kalangan korban Napza.

Tiap teman bertugas pada satu program tertentu. Wahyu adalah orang yang mengoordinir itu semua.

Ketika mendirikan IKON pada September 2006, kami memulai dengan sekitar 15 orang di tim inti. Tim ini adalah penggerak utama. Basis gerakan ini adalah korban Napza, terutama IDU.  Karena aku sudah akrab dengan mereka, kehadiranku sebagai outsider, tak menjadi masalah.

Penampilan para IDU itu satu sama lain tak jauh beda. Baju kumal. Muka kusut. Badan penuh tato. Rambut acak-acakan. Ketika pertemuan, tak sedikit IDU yang sedang bengong dengan mulut menganga atau mata merem melek seperti ngantuk. Mereka lagi stone atau fly. Kalau tidak baru selesai pakai putaw, mereka mungkin baru saja minum methadone atau nyuntik buprenorphine alias Subutex. Orang-orang seperti inilah yang harus kami gerakkan.

Aku ingat bagaimana kami harus memulai diskusi tentang sesuatu yang selama ini seolah-olah makhluk asing nun jauh dari kehidupan para IDU itu, HAM, hal yang kami sendiri bahkan tak cukup mengerti. Untung ada Gendo. Dia yang selalu menggugah kesadaran para IDU untuk peduli pada masalah ini. Dan, Wahyu dengan bagus menerjemahkan pembicaraan ini untuk para IDU.

Puncak dari penyadaran itu adalah ketika akhirnya kami sepakat untuk melakukan aksi damai di Pengadilan Negeri Denpasar dan Kejaksaan Negeri Denpasar pada 14 Desember 2006. Aksi yang diikuti sekitar 40 orang ini, bagiku, adalah aksi bersejarah. Untuk pertama kalinya IDU di Bali berani keluar, menyatakan diri sebagai korban, sekaligus menuntut agar vonis penjara bagi mereka dihapus dan diganti rehabilitasi.

Meminjam istilah dunia lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), aksi ini mungkin sama dengan coming out of the closet, keluar dan menyatakan diri. Bagiku sih ini luar biasa. Dari yang semula bersembunyi dan pasrah ketika tertangkap, IDU kini keluar dan berani bersuara.

Wahyu sosok di balik keberanian para IDU itu untuk keluar dan bersuara. Dia yang memimpin aksi, memberikan komando, juga berorasi. Dia ada di barisan paling depan sambil membawa megaphone, memakai topi ala tentara komunis China, dan mengikatkan pita merah putih di bahu kanannya.

Setelah aksi itu, aku merasa IKON dan juga para IDU di Bali makin menemukan keberanian. Mereka sering melakukan aksi tiap kali ada momentum: Hari HAM Internasional, Hari Anti Peredaran Gelap Napza, Hari AIDS, dan lain-lain.

Aksinya tak melulu dalam bentuk demonstrasi di lembaga pengadilan. Ada aksi simbolik dengan memasang ratusan sepatu orang-orang yang sudah meninggal karena HIV/AIDS sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan yang dialami orang dengan HIV/AIDS (ODHA), ada aksi teatrikal tentang buruknya penjara di negeri ini, aksi topeng mengecam kemunafikan pelaksana penanggulangan HIV/AIDS, dan seterusnya.

Pernah juga, misalnya, mereka melakukan aksi bersih-bersih fasilitas umum sebagai simbol agar sampah juga dipedulikan dan didaur ulang. Sebab, IDU, dalam bahasa lain disebut junkie, kadung disebut sebagai sampah masyarakat.

Hal yang kutemukan adalah para korban Napza itu semakin mampu bersuara dengan cara yang beda. Target aksi ini sebenarnya lebih sebagai pengenalan pada publik dan media. Bahwa, ini lho, ada pelanggaran HAM di kalangan pecandu. Dan kini kami menuntut agar kami tidak lagi mendapat tindak kekerasan itu.

IKON makin dikenal. Mereka rajin masuk media terutama untuk isu kekerasan pada IDU. Begitu pula dengan Wahyu.

Tapi kampanye lewat media hanya salah satu cara. Kami juga melakukan upaya lain melalui lobi pada hakim, jaksa, maupun Departemen Hukum dan HAM. IKON, misalnya, membuat lokakarya tentang vonis rehabilitasi untuk menggantikan hukuman penjara. IKON juga makin luas jaringannya di kalangan aktivis peduli HAM, setidaknya di Bali. Gendo, mantan aktivis mahasiswa sekaligus mantan tahanan politik di Bali, itu rajin mendidik anak-anak IKON dari yang semula nol pengetahuannya tentang HAM tiba-tiba fasih membicarakan isu ini.

Toh, di antara sekian program itu, aksi demonstrasi yang kemudian identik dengan IKON. Tak heran jika IKON, di mana Wahyu dan kawan-kawan lain mengorganisirnya, kemudian dikenal sebagai tukang demo. Di kalangan aktivis penanggulangan HIV/AIDS di Bali pun begitu. Aku pernah mendengar misalnya ada yang berucap, “Sudah. Kalau lembaga X macem-macem, kita ajak IKON saja untuk demo..”

Sebagian orang melihat IKON sebagai pergerakan solid untuk mengadvokasi kasus kekerasan pada IDU. Ketika ada IDU yang tertangkap, anak-anak IKON segera bergerak menemuinya di kantor polisi atau penjara untuk memastikan bahwa mereka tidak disiksa polisi. Sebagian IDU bersedia didampingi, sebagian lain menolaknya.

~

IKON juga tak lepas dari dinamika. Tim inti di dalamnya datang silih berganti keluar masuk. Ada, misalnya yang keluar karena tak nyaman dengan situasi di dalamnya. Ada pula yang keluar karena tertangkap menjadi pengedar. Macem-macem alasannya. Aku termasuk salah satu yang keluar dari tim inti. Dari semula sebagai advisor untuk dokumentasi dan kampanye, aku keluar dari tim ini.

Alasanku waktu itu hanya karena aku harus agak fokus dengan Sloka Institute, lembaga yang aku dirikan bersama tiga teman lain. Selain itu, aku merasa teman-teman lain di IKON sudah menemukan bentuk gerakan yang mereka cari. Aku merasa tak perlu lagi terlalu banyak terlibat di dalamnya. Aku hanya sesekali berdiskusi dengan teman-teman di IKON, terutama Wahyu, Moyong, Ayu, dan Gendo meski tidak seintens sebelumnya.

Di jaringan sesama korban Napza Indonesia juga IKON masuk dalam dinamika ini. Aku sendiri tak tahu banyak. Tapi Wahyu sering bercerita tentang perselisihan antar-jaringan korban IDU terkait dengan isu yang mereka angkat bersama. Ada yang ngotot soal perlunya vonis rehab, ada yang ngotot soal dekriminalisasi, dan seterusnya. Masalah-masalah ini mengemuka dalam pertemuan di antara mereka sendiri.

Aku, sekali lagi, tak tahu lebih dalam soal ini. Wahyu hanya beberapa kali bercerita bahwa ide-idenya diklaim oleh organisasi lain dalam jaringan sesama korban Napza. Bagiku, pernyataan hal seperti ini kadang terdengar naif. “Bukannya kalian memang harus saling membantu. Jadi ya wajar aja kalau saling klaim ide atau kegiatan,” kataku.

Dinamika di dalam maupun sesama gerakan itu menjadi bagian tersendiri dalam perjalanan IKON. Meski demikian, dinamika paling terasa berdampak pada jalannya IKON adalah akibat tak jelasnya status antara IKON dengan Yakeba. Selama ini, secara formal, IKON merupakan bagian dari Yakeba terutama untuk urusan legalitas mencari lembaga donor.

Oya, lembaga donor memang hal penting dalam urusan gerakan ini. Para aktivis perlindungan HAM bagi IDU ini, di hampir semua kota di Indonesia, memang mendapat dukungan dana tak sedikit dari Open Society Institute (OSI), lembaga milik milyarder dan filantropis George Soros. Lembaga donor ini pula yang sering membiayai kunjungan oleh para aktivis tersebut ke negara lain seperti Polandia, China, Denmark, dan seterusnya untuk belajar tentang advokasi HAM bagi IDU.

Untuk urusan mencari donor itu, IKON menggunakan nama Yakeba. Awalnya sih semua lancar saja. Hingga kemudian IKON ingin keluar dari Yakeba. Banyak alasan untuk keluar. Tapi, salah satu alasan paling kuat adalah ketika Wahyu dipecat dari jabatannya sebagai Manajer Program Yakeba karena dia relapse, kembali pakai putaw..

Rencana keluarnya IKON dari Yakeba ini jadi tarik ulur tersendiri di antara kami. Beberapa kali obrolan mentok di tengah jalan. Pada akhirnya IKON tak pernah keluar dari Yakeba bahkan setelah Bob Monkhouse, pendiri sekaligus patron Yakeba, meninggal November lalu. Hingga saat ini IKON masih berada dalam satu lembaga dengan Yakeba.

Toh, IKON tetap kembang kempis. Mereka mulai jarang berkumpul sesama IDU. Aksi ke jalan atau kegiatan lain juga lama tidak dilakukan. Salah satu alasannya karena tak ada lagi dana dari lembaga donor. Terakhir kali dalam diskusi, Wahyu bilang bahwa OSI tidak jadi memberi dana untuk program karena tidak jelasnya status antara IKON dengan Yakeba.

Menurutku, IKON pun mati suri.

Pertemuanku dengan Wahyu juga makin jarang. Dia sering sakit. Dasar teman yang tidak baik, aku juga tidak pernah berkunjung ke rumahnya ketika dia sakit. Paling hanya sesekali kontak lewat SMS, Facebook, atau chatting lewat YM.

Aku lupa berapa lama tidak bertemu dengannya. Mungkin lebih dari enam bulan. Sampai aku bertemu dia sambil makan siang di warung tempat kami biasa bertemu, Warung Ayam Guling Suweca di Jalan Bedugul, Sidakarya, Denpasar.

Dia lebih kurus dengan sebagian rambut memutih dan rontok. Kami becanda sambil makan siang bersama Moyong. Wahyu mengusap rambutnya, memperlihatkan rambut-rambut yang rontok di tangannya. Dia bercanda tentang kematian yang semakin dekat.

Wahyu makin rajin sakit. Dia lebih banyak di rumah daripada di kantor Yakeba. Tiap kali kami bertemu, aku lihat wajahnya semakin kurus. Rambut putih di kepalanya makin banyak. Juga makin banyak yang rontok. Dan, dia terus saja berbicara tentang kematian, hal yang bagiku mengandung kepasrahan. Pejuang itu tak kuat melawan tubuh yang semakin rapuh.

Kuasanya untuk melawan tubuh yang kian rapuh itu makin tak terlihat ketika kami bertemu di ruan Flamboyant Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, tepat saat Valentine lalu. Dia berbaring di kasur pasien dengan dua infus sekaligus untuk cairan dan oksigen. Dia terbaring dengan kulit tubuh yang seperti menyatu dengan tulang karena saking kurusnya. Tubuhnya makin ringkih. Matanya terlihat cekung. Hanya memakai kaos dalam, semua tato di tubuhnya jadi terlihat termasuk tato malaikat di lengan kirinya.

Sehari sebelumnya dia masuk rumah sakit tersebut. Tumben. “Biasanya dia gak pernah mau diajak ke rumah sakit kalau lagi sakit. Ini karena kemarin dia pingsan, makanya bisa dibawa ke sini,” kata Dayu Rupini, pasangan Wahyu yang merawatnya selama di rumah sakit.

Dayu bercerita. Sehari sebelumnya Wahyu pingsan karena diarenya tak kunjung berhenti. Siang itu pun Wahyu masih berkali-kali pingsan. Pas aku datang, kondisinya lebih baik. Jadi dia bisa diajak bicara. “Sialan. Ngapain aku dibangunin lagi. Padahal aku sudah enak di sana, nok,” kata Wahyu. Dia memakai popok untuk menahan diarenya.

Dia bercerita kalau dia sudah sampai di tempat baru. “Ada lapangan rumput. Aku duduk di bawah pohon bambu sambil merokok. Anginnya sepoi-sepoi. Asli. Enak banget di sana. Eeh, aku ditendang-tendang sama mereka,” kata Wahyu. Kami tertawa.

Selain aku, siang itu ada Moyong, Dayu, dan Koplar. Kami bicara banyak hal. Wahyu dengan tubuh ringkihnya banyak ngobrol sambil mata terpejam. Giliran dia minum antiretroviral. Dia sudah mengonsumsi lini dua obat ini. Wahyu adalah satu dari dua orang di Bali yang minum ARV lini dua. Artinya obat ARV pada umumnya, yang diminum sebagian besar ODHA, sudah tak berfungsi lagi di tubuhnya.

“ARV fuck!” katanya sambil merem. Dia mengangkat obat bermerk Teno EM tersebut dengan tangan kirinya. Dia mengacungkan jari tengah kanannya pada kami yang lalu tertawa.

“Sini foto dosisnya biar jelas,” ujarnya ketika aku foto dia dengan obat di tangannya.

Pertemuan terakhir kami itu selama sekitar dua jam. Kami ngobrol banyak hal yang masih berputar-putar pada masalah sama: pelanggaran HAM di kalangan IDU, IKON, HIV/AIDS, ARV, dan seterusnya. Lalu, aku pergi meninggalkan dia.

Aku masih berniat membesuknya lagi. Tapi, niat itu ternyata terlambat. Dia pergi lebih cepat. Pagi itu, ketika membaca SMS dari Gendo dan Moyong bahwa Wahyu sudah pergi, aku hanya bisa berkaca-kaca dan berdoa. Wahyu pergi mewariskan penyesalan padaku karena dua hal: aku tak membesuknya lagi dan aku belum menyelesaikan buku yang kami kerjakan bersama: Silent Victim. Ini buku laporan kekerasan pada IDU di Bali.

Sori, Yu. Aku belum menyelesaikannya. Tapi aku mencatatnya sebagai hutangku padamu. Aku akan menyelesaikannya demi kamu, demi apa yang kita pernah perjuangkan bersama.

Sekarang beristirahatlah dengan tenang. Seperti lagu Kantata Samsara untuk Udin, wartawan pejuang itu. Berbaringlah, kawan. Berbaringlah dengan tenang..

Diambil dari: http://www.rumahtulisan.com/07/03/2010/daily-life/berbaringlah-kawan-berbaringlah-dengan-tenang.html/comment-page-1#comment-6647

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *