Sosok Gendo


“Barang” Apakah Sosoknya dia (Gendo)?

By: Team Gambreng (entah siapa yang buat)

“Sampai saat ini saya menolak untuk didakwa dengan pasal haatzai artikellen” diucapkan dengan lantang oleh “Gendo” pada sidang keduanya di pengadilan negeri Denpasar beberapa bulan silam atas dakwaan penghinaan terhadap simbol negara.

Lahir di Ubud, 8 Oktober 1976 dengan nama lengkap I Wayan Suardana, tepatnya di Banjar Padang Tegal Kelod, Ubud, Gianyar, Bali. Jiwa perlawanannya tumbuh sejak ia masih kecil karena merasa selalu hidup dalam keterkekangan terhadap segala keinginan. Tumbuh dalam keluarga dalam didikan disiplin yang keras membuatnya selalu ingin lepas dari kungkungan otorikrasi yang menekan jiwa bebasnya.

Bandel, nakal, pemberontak sudah menjadi label pada masa perkembangan umurnya, jauh dari kriteria sebagai anak baik karena acapkali menentang terhadap aturan yang dianggapnya sebagai suatu alat menekan dan mengekang dan itulah yang ia yakini sebagai arti kata “lawan”.

Asam garam organisasi telah dicicipinya sejak bangku SD, berbagai kegiatan ekstra kurikuler ia tekuni pada masa sekolahnya , sebut saja pramuka, karate sangat sekali digemarinya. Di luar lembaga akademispun ia juga aktif pada beberapa kegiatan kesenian di lingkungannya. Saat menjadi mahasiswalah prestasi organisasinya berkembang pesat terlihat berbagai jabatan strategis pernah ia pegang antara lain: Sekjend Posperra( Posko Perjuangan Rakyat-Bali), Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Teknik- Universita Udayana Bali (SMFT Unud), Badan Pekerja Nasional PMTI (Perhimpunan Mahasiswa Teknik se- Indonesia), Sekjend Komite Sentral Mahasiwa Universitas Udayana (KOSMA-Unud) saat ini disebut sebagai Presiden BEM Unud,  Sekjend Front Demokrasi Perjuangan Rakyat Bali (Frontier- Bali), dan Ketua Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia Wilayah Bali (PBHI- Bali). Anggota Majelis Sabuk Hitam Kushinryu M Karatedo Indonesia (KKI Bali),  dan pengurus di Pengda KKI Bali, dan masih banyak lagi

Selain Aktiv dalam organisasi putra tunggal dari Pasangan I Wayan Suja (almarhum) dan Ni Made Warsi ( almarhum) ini juga aktif menulis dalam beberapa media cetak pers mahasiswa, maupun media umum lokal. Begitupun dalam beberapa kegiatan diskusi, seminar, pelatihan, yang diselenggarakan oleh, radio, televisi, mahasiswa,dan jaringan LSM.

Merasa tidak sesuai dengan jiwanya membuat mahasiswa yang pernah menjadi pemeran pembantu utama di sinetron pada sebuah televisi lokal ini membuat ia keluar dari jurusan teknik arsitektur yang dijalaninya selama tujuh tahun ke program ekstensi Fakultas Hukum Universitas Udayana, ini menurutnya adalah bagian dari kekeliruannya dalam memilih kuliah. Sejak tahun 1995 status sebagai mahasiswa hingga november 2008 masih dipegangnya, selama itu pula suara-suara perlawanan terus ia teriakkan. Aksi demonstrasi dijalan menjadi suatu melodi yang mengasyikkan baginya, karena disitulah ekspresi kebebasannya berbicara dan baginya demonstrasi adalah cara paling efektif untuk melakukan perubahan.

Dibesarkan seorang diri oleh ibunya semenjak ditinggal Bapaknya pada usia dua tahun, seorang ibu yang Cuma tamatan kelas tiga SD dan pedagang toko klontong tapi mampu mengantarkannya pada jenjang mahasiswa. Semangat untuk survive itu membuatnya tak ragu untuk mengatakan bahwa beliau sebagai sumber inspirasinya. Bahkan label yatim piatu yang melekat pada dirinya sejak ditinggalkan ke alam baka oleh ibunya pada tahun 2000, tak menggoyahkan keyakinannya untuk terusa berjuang

Dihukum guru karena seragam tidak lengkap atau rambutnya yang gondrong, tidak mengerjakan PR adalah biasa baginya. Tak pernah suka watak sok berkuasa dan mendominasi wilayah membuatnya acapkali berkelahi dengan preman semasa sekolahnya dulu. Nilai merah di raportpun tak luput darinya.

Pada tanggal 3 Januari 2005 I Wayan “Gendo” Suardana ditangkap atas tuduhan penghinaan terhadap simbol negara, berkenaan dengan aksi bersama massa Posko Mahasiswa Bali mengenai penolakannya terhadap kebijakan pemerintah rezim SBY dalam menaikkan harga BBM yang menurutnya tak pernah berpihak kepada rakyat pada akhir tahun 2004, didepan kantor DPRD Bali. Dikenakan dengan pasal Haatzai artikelen kemudian ahirnya vonis enam bulan penjara dipotong masa tahanan oleh Pengadilan Negeri Denpasar dikalungkan padanya atas nama hukum.

Gendo hanyalah seorang manusia biasa sesuai dengan kodratnya, hidup dijalaninya penuh dengan kenakalan dan kesalahan. Namun ironisnya ia akhirnya dihukum atas suatu kebenaran yang selalu diperjuangkannya.

Akankah ini menjadi akhir dari ujung tombakmu hai pejuang?

sedang mawar masih terluka oleh durinya

Dan sang matahari masih tidur dalam lelapnya.