BTR ADALAH KUNCI KEMENANGAN KANDIDAT PILGUB 2018


BTR ADALAH KUNCI KEMENANGAN KANDIDAT PILGUB 2018[*]

I Wayan Gendo Suardana**

Menarik memperhatikan hasil survey oleh Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) beberapa waktu lalu. Survey yang dilakukan 30 April hingga 6 Mei 2018 pada pokoknya menyatakan; “kalau pilkada Bali dilakukan pada saat survei awal Mei lalu, maka pasangan Wayan Koster-Tjok Oka Artha Ardhana Sukawati mendapat dukungan 48,3 persen, sementara unggul atas IB Rai Dharmawijaya Mantra-I Ketut Sudikerta yang mendapat dukungan 26,9 persen, dan yang masih belum tahu itu jumlahnya 24,8 persen”

Namun demikian, yang membuat Penulis tergelitik justru jumlah suara 24,8% yang dinyatakan sebagai suara masyarakat yang baru akan memastikan pilihannya pada hari H. Artinya ini adalah suara mengambang yang akan cukup signifikan mementukan siapa yang terpilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Bali nanti. Siapa saja dari pasangan calon ini mampu secara maksimal meraih suara 24,8% ini secara dominan maka peta kekuatan pilgub Bali 2018 akan berubah.

Menurut Penulis fakta inilah yang sepertinya membuat kedua belah pihak baik dari kubu KBS-ACE maupun Mantrakerta terlihat all out terutama dalam kampanye terakhir hingga jelang minggu tenang. Kubu KBS ACE yang di dinyatakan menangpun tidak bisa sepenuhnya tenang, kendati di media massa hasil survey ini kerap didengungkan-dengungkan, namun menurut Penulis hal itu lebih sebagai penjaga “mental bertarung” simpatisannya saja. Di sisi lain, Penulis melihat bahwa kubu Mantra Kerta, justru semakin terpantik dengan hasil survey ini. Setidaknya survey ini menunjukan mereka masih berpeluang menang, dengan syarat bisa meraup maksimal suara mengambang sebesar 24,8% suara ini.

Asumsi penulis tersebut kiranya dapat diuji dengan ketatnya kampanye dari kedua kubu yang saling mengimbangi di minggu-minggu akhir. Saat kubu MantraKerta menggelar road show konser musik sebagai sebuah metode kampanye, kubu KBS ACE juga mengimbanginya. Perang isu di social media pun makin kuat. Menurut penulis situasi ini menunjukan kubu KBS ACE sendiri menyadari bahwa kemenangan mereka belum aman.

Siapakah 24,8 persen itu?

Penulis tertarik untuk menelisik dan melakukan penafsiran, siapa sesungguhnya yang dinyatakan sebagai masyarakat yang baru akan menentukan sikap pilihnya pada hari H? Hal ini menggelitik karena pihak SMRC tidak membuka, siapakah mereka ini atau setidak-tidaknya apa alasan dan motif mereka menentukan sikap pas hari H pemilihan? Apa ukuran mereka akan memilih atau tidak menggunakan hal pilihnya? Dalam konfrensi pers yang dimuat di media massa entah kenapa hal itu tidak terungkap.

Untuk menjawab hal ini Penulis akan mendasarkan pada aktifitas kampanye serta isu yang dimainkan kedua belah pihak dalam minggu-minggu terakhir termasuk isu dalam debat kandidat III. Ada beberapa perubahan mendasar yang dilakukan oleh Kubu KBS ACE. Perubahan ini Penulis cermati mengingat perubahan tersebut cenderung mendekati pola serta isu yang dimainkan oleh kubu Mantra Kerta

Pertama, pola kampanye; KBS ACE melakukan perubahan cukup signifikan dari pola mobilisasi massa ( pada akhir-akhir masa kampanye) mereka berubah dan intensif menggelar konser musik yang bertajuk “generasi millennial.” Nampaknya konser ini digunakan menandingi pola yang dimainkan Mantra Kerta (mereka sedari awal mencitrakan dirinya sebagai pemimpin dengan taste millennial). Secara sadar paslon Mantra Kerta menggunakan citra “generasi jaman now; baik dengan menggunakan isu economy orange maupun tampilan busana semi jeans yang sangat casual dan kekinian.

 

Paket KBS ACE terlihat agresif dalam formulasi barunya. Di setiap acara konser bertajuk “generasi millennial”, baik Wayan Kosrer maupun Tjok Ace pun berubah membalut dirinya dengan tampilan casual. Demikian pula poster-poster kampanyenya diisi dengan model anak-anak muda. Kesan yang sungguh berbeda dengan awal-awal kampanye mereka yang mengandalkan mobilisasi massa. Dari hal ini terlihat bahwa target mereka adalah meraih suara generai millennial.

 

Kedua, isu tolak reklamasi Teluk Benoa; Ini sejatinya adalah isu panas bagi kedua paslon. Namun kubu Mantra Kerta sedari awal fokus menkapitalisasi isu ini dengan berbagai cara. Sedangkan di pihak KBS ACE, pasca terjadinya blunder“tragedi nasbedag” yang sempat membuat mereka “limbung” secara politik, nampaknya lebih berhati-hati memainkan isu BTR. Mereka cenderung “menjauhi”isu BTR, supaya situasi bisa tetap kondusif setelah mereka sedikit berhasil mengatasi situasi blunder “Nas bedag” tersebut.

 

Namun tidak disangka pada debat terbuka III, di sesi tanya jawab antar kandidat, kubu KBS ACE menyodok dengan materi isu reklamasi Teluk Benoa. Terlihat target pertanyaan merontokan citra kubu Mantra Kerta yang terus memainkan isu BTR, dengan cara menunjukan ke publik bahwa Sudikerta adalah insiator reklamasi Teluk Benoa. Di satu sisi, menurut penulis, pertanyaan itu bisa merontokan kepercayaan pubik pada Mantra Kerta tapi di sisi lain hal itu bisa menjadi boomerang bagi KBS ACE, karena secara tidak langsung mereka kembali mengingatkan publik pada tragedi “nas bedag” yang secara politik sudah bisa diatasi.

 

Pertanyaanya mengapa kubu KBS ACE nekat memainkan isu BTR yang sdah susah payah mereka jauhkan dari pusaran air mereka? Karena logikanya, seharusnya mereka justru menajuhkan isu BTR dari pusaran mereka agar publik tidak lagi dingatkan dengan bluder politik “nasbedag”agar tidak mejadi bumerang politik. Jika dihubungkan dengan hasil survey SMRC, Kubu KBS ACE adalah pemenang, sehingga mereka tidak harus mengambil resiko menaikan isu BTR dalam debat kandidat. Tentu ada target yang lebih besar yang hendak diraih di banding dengan resiko yang harus ditanggung.

 

Berdasrkan paparan tersebutlah Penulis berpendapat bahwa 24,8% suara yang mengambang tersebut terindikasi adalah oraag-orang (setidaknya sebagian besar) adalah orang-orang yang akan menentukan pilihannya setelah mencermati sikap para kandidat terhadap isu reklamasi Teluk Benoa sampai hari H dan di dalammya banyak terdiri dari generasi millennial sebagai pemilih pemula. Tentu saja pendapat ini perlu dijaki lebih jauh dan mendalam serta dapat didasarkan pada survey SMRC.

 

BTR Adalah Kunci kemenangan

Keadaan-keadaan inilah yang menurut Penulis menajdi latar belakang kenekatan kubu KBS ACE memainkan isu BTR dalam masa kampanye terakhir. Jika tidak dapat meraih, setidaknya menahan suara mengambang sebesar 24,8% agar tidak direbut kubu Mantra Kerta menjadi keniscayaan bagi mereka. Jika benar pendapat penulis bahwa suara mengambang sebesar 24,8% adalah dominan suara yang sarat dengan isu BTR dan di dalamnya pemilih pemula maka tindakan KBS ACE dapat dipahami sebagai upaya menjaga kemenangan yang dinyatakan berdasarkan Survey SMRC, sebagai berikut:

  1. Memainkan isu sebagai paslon yang pro generasi millennial secara tidak langsung dapat menggerus citra Kubu Mantra Kerta sehingga kelompok generasi millennial yang ada di dalam 24,8% suara megambang itu dapat diraih atau setidak-tidaknya tidak beralih ke Kubu Mntra Kerta. Jika taktik kampaye mereka berhasil tidak hanya sekedar mendapatkan limpahan suara “generasi millennial” dari suara mengambang numgkin juga data mempengaruhi generasi millennial yang sudah terkonsolidasi di Kubu Mantra Kerta.
  2. Demikian pula dengan isu reklamasi Teluk Benoa. Dengan mengangkat polemik ini dan menujukan surat yang ditandatangani Sudikerta maka targetnya tentu saja adalah merontokkan citra kubu Mantra Kerta sebagai penolak reklamasi. Dengan cara ini maka seleuruh taktik Kubu Mantra Kerta sebagai penolak reklamasi akan terdelegetimasi. Target politiknya tentu saja besaran suara mengambang 24,8% tidak akan ke Mantra Kerta karena ketidakpercayaan sudah berhasil dibangun oleh mereka. Setidaknya dengan cara ini, jika suara BTR dalam 24,8% ini tidak bisa diraih maka menahan agar suara ini menjadi suara mengambang adalah target yang sangat realistis.

 

Tentu pendapat penulis ini menimbulkan pertanyaan , mengapa mempertahankan suara 24,8% itu menjadi suara mengambang alias golput menjadi target. Asumsinya sangat sederhana, jika suara 24,8 persen tersebut tidak dapat diraih oleh KBS ACE secara maksimal maka suara tersebut tidak boleh berpindah ke kubu Mantra Kerta. Jika suara tersebut pindah secara signifikan ke Mantra Kerta, maka berdasrkan survey SMRC, peluang Mantra Kerta menang tipis atas kubu KBS ACE sangat besar. Namun jika kubu KBS ACE berhasil membuat suara 24,8% tersebut tidak berpindah daja (dengan sumsi suara terssebut tidak bisa diraup mereka) maka dengan modal kemenangan sebagaimana survey SRMC sebesar 48,3% akan tetap menjadi milik mereka dan pesta kemanangan yang dinantikan dari lama siap dirayakan.

 

Berdasarkan pendapat Penulis ini maka dapat disimpulkan bahwa kunci kemenangan kedua kandidat sangat ditentukan oleh isu penolakan reklamasi Teluk Benoa yang selama bertahun-tahun tidak mendapat perhatian yang cukup dari kekuasaan dan lembaga-lembaga politik di Bali. Jadi para pejuang Teluk Benoa yang sudah bertahun-tahun di jalanan, inilah momentum yang instimewa karena saat ini kita menjadi penting di hadapat penguasa. Gunakan hak pilih kalian dengan baik, dan mari jaga martabat serta harga diri perjuangan kita. Selamat memilih!

 

 

 

 

 

[*] Tulisan dibuat pada 26 Juni 2018

** penulis adalah Koordinator ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *