Archive for the ‘Musisi’ Category

Ed Eddy & “Benar-Benar”Residivis

Monday, October 26th, 2009

Ed Eddy & “Benar-Benar”Residivis

Oleh: I Wayan Gendo Suardana

Tulisan ini diambil dari, http://www.musikator.com/ed-eddy-benar-benarresidivis/

AkuTakSedih

…Anjing …kukira preman
Anjing… ternyata polisi…

Inilah salah satu lirik yang “melambungkan” nama Ed Eddy & Residivis, tidak hanya di jagat permusikan yang memang sudah lama digeluti mereka, bahkan menembus batas ke area jagat “pemberontakan” kelompok sipil prodemokrasi. Lirik lagu yang berjudul Anjing ini pula yang menghantarkan mereka (Ed Eddy dan Igo) ke pintu gerbang Peradilan (ehm, mirip proklamasi aja).

EdEddy-logo

Di sinilah sejarah mulai tertoreh, personil band yang diadili atas karya seni terjadi di Bali. Ironisnya peradilan dilakukan setelah mereka mengeluarkan keringat di atas panggung Konser Amal “Dari Bali Untuk (more…)

Malaikat: “KUgendong Mbah Surip ke sisiNYA”

Wednesday, August 5th, 2009

Malaikat: “KUgendong Mbah Surip ke sisiNYA”

I Wayan “Gendo” Suardana

Suara riuh dari sebuah lapangan bola volley di tengah-tengah desa di Kuta Utara membuat konsentrasi saya buyar saat mengikuti sebuah pelatihan. Kebetulan tempat tersebut dekat dengan Lapangan Volley dimana disana digelar kejuaraan antar kampung. Apalagi pertandingannya digelar malam hari diiringi komentator amatiran yang mengiringi setiap aksi dari pemain volley melalui sebuah toa yang cukup membuat telinga seolah bengkak.

Namun di setiap jeda set dari sebuah pertandingan, pasti kepala saya bergoyang-goyang dan sambil senyum;

……Tak Gendong kemana-mana

Tak gendong kemana-mana

enak dong, mantep donk

daripada kamu naik pesawat kedinginan…

mendingan tak gendong toh..

enak to, mantep to..

ayo mau kemana…

yach, lirik lagu bergenre reagge ini membuat saya seketika enjoy. Tak terbayang hampir seluruh peserta pelatihan selalu bergoyang saat lagu ini diputar, padahal hanya didengar melalui sebuah Toa -soundsystem yang sebenarnya tidak cukup menghantar lagu untuk diperdengarkan secara nyaman-.

Awalnya memang saya tidak tertarik dengan lagu ini. Padahal sebelumnya saya beberapa kali saya sudah mendengarnya. Tapi waktu itu saya sama sekali tidak tertarik dan cenderung “mencemooh” lagu ini. Lirik lagu yang sederhana, suara serak yang keluar dari mulut seorang yang sudah uzur turut mempengaruhi cara pandang saya akan keunikan lagu ini. Saking tidak tertariknya, saya tidak ingat siapa yang menyanyikan, kecuali seorang kakek dengan dandanan ala Rastafara.

Hingga pada saat momentum pelatihan, justru saya baru bisa enjoy dan mulut saya komat kamit menirukan lagu itu. Sangat gampang, menirukan liriknya saking sederhannanya tapi begitu menghanyutkan. Dan keadaan ini sungguh kontradiktif. Saya justru menikmati lagu tersebut saat diperdengarkan dari sebuah Toa. Hmmm mungkin bukan masalah soundsystemnya tapi mungkin karena jiwa saya baru terusik tatkala melihat orang-orang begitu sumringah mendendangkan lagu ini. Saat itulah saya baru bisa mengenali bahwa lagu ini begitu asik, unik, justru karena kesederhanaannya dan dibawakan juga oleh kakek yang terkesan eksentrik tetapi tetap dengan balutan kesederhanaan.

Saat kepala saya bergoyang sambil tersenyum melihat tingkah polah temen-temen yang bergoyang mengikuti lagu tersebut, ups! saya baru tersadar, bahwa saya tidak tahu nama penyanyinya. Yach nama si kakek yang sempat membuat saya menyangka dia adalah orang gila dan bahkan sempat terpikir menuduh sang produser adalah orang yang tidak mengerti musik karena mau merekam dan menampilkan lagu yang tidak bermutu.

Seketika itu pula saya bergegas bertanya kepada seorang kawan. Begitu saya menanyakan nama penyanyinya, kawan saya tertawa terbahak-bahak sambil mengejek,:”jadi kamu selama ini kamu goyang-goyang kepala ngapain?”, begitulah dia berkata sembari memberitahu saya bahwa penyanyi itu bernama Mbah Surip.

Sejak saat itu saya nulai tertarik dengan Mbah Surip sehingga saya searching sosok Mbah Surip di internet. Mmmm sosok yang demikian misterius, semakin membuat saya sering mengikuti beritanya. Sampai kemudian seorang teman yang mengirimkan SMS dan memberitahukan sosok itu meninggal dunia. Saya kaget, rasanya belum puas saya menyusuri kehidupannya ternyata dia telah pergi. Seperti tersentak, saya terbawa oleh sebuah ingatan entah beberapa lama waktu ke belakang. Sepertinya saya beberapakali menjumpai sosok tua berambut gimbal di Wapres (warung Apresiasi) Bulungan, mmm mungkinkah itu Mbah Surip?

Ah, saya tidak mau terhanyut lebih lama.

Mbah, kemarin banyak artis yang telah kamu gendong, banyak orang yang kamu mau gendong dengan lagumu, tetapi saat ini ditengah semua orang berharap kamu gendong dengan nyanyianmu ternytaa mereka sudah harus mengendong jasadmu.

Selamat Jalan Mbah Surip.

Semoga malaikat menggendongmu samapai disisiNYA.

Diatas bumi, 5 Agutus 2009

The Hydrant; “seribu” dan Rp. 1000 untuk Hutan Indonesia

Thursday, March 19th, 2009

The Hydrant; “Seribu” dan Rp 1000 untuk Hutan Indonesia

I Wayan “Gendo” Suardana

“Seribu…Seribu..Seribu..” Bila Anda mendengar teriakan seperti itu di tengah konser musik jangan segera menyimpulkan bahwa itu adalah teriakan penjual makanan. Wah bisa berabe, nih . Orang yang belum tahu akan berpikir, “Pedagang apa tuh teriak-teriak di atas panggung?”

Saya sengaja mengawali tulisan ini dengan mencatut ikon “seribu” khas The Hydrant, band penganut rockabilly dari Bali. “Seribu” adalah cara Band ini untuk menyapa dan menanyakan penonton. Kata “seribu” bukan nominal angka tapi plesetan dari kata “setuju”. Selain penampilan mereka yang Rock n’ Roll habis dan permainan panggung yang atraktif, kata “seribu” ini memang sejak awal memikat dan menjerat alam bawah sadar saya bila mengingat Band Rockabilly ini.

Namun sebelum mengulas ketertarikan pada kata “seribu” itu, mari kita mengamati sedikit asiknya band ini.

(more…)

Superman Is Dead; Oase di Tengah Pemikiran Sempit Keseragaman

Saturday, March 14th, 2009

Superman Is Dead; Oase di Tengah Pemikiran Sempit Keseragaman

Oleh I Wayan “Gendo” Suardana

“Superman Is Dead (S.I.D) menginspirasi dan mengajarkan kami tentang indahnya perbedaan dan untuk menghormati keberagaman!” Kurang lebih itulah pendapat salah seorang penonton yang hadir dalam gig semalam (12/3/09) di salah satu pusat hiburan di bilangan Jakarta Pusat. Pernyataan secara terbuka yang diucapkan dalam sebuah panggung “glam” peluncuran album baru S.I.D yang bertajuk Angels & the OutSIDers.

Damn! Saya tersentak dengan pernyataan tersebut. Pernyataan yang sudah sangat lama saya nanti-nantikan tiba-tiba terdengar langsung oleh telinga saya. Mungkin banyak orang yang akan bertanya-tanya, apa istimewanya komentar tersebut? Sehingga harus membuat tersentak? Bukankah pendapat-pendapat seperti itu sudah biasa diucapkan? Lalu apa yang menjadi luar biasa?

(more…)