MARI BERDEBAT ISTILAH, KANG!
Thursday, September 27th, 2012MARI BERDEBAT ISTILAH, KANG!
Belakangan terjadi perdebatan semantik yang mengernyitkan kening bila membacanya. Istilah Pluralitas yang dipertentangkan dengan Pluralisme. Persoalan ini semakin menarik tatkala para “seleb” mulai terlibat dalam gerakan menerima pluralitas dan menolak pluralisme dengan slogan; “Pluralitas Yes, Pluralisme No!”. Salah satu yang tercatat getol adalah AL a.k.a UCAY sang pokalis Band Rocket Rockers. Terlepas dari kegiatan sang biduan tersebut sebagai bagian dari “pertarungan klaim” dengan Jaringan Islam Liberal -itu adalah urusan mereka-, namun sejatinya mulai membias ke berbagai sisi. Terlebih jargon yang dikampanyekan: “PLURALISME, INJAK SAJA!”
Tulisan saya ini khusus saya buat karena tergelitik atas tulisan UCAY di Blognya, terkait dengan surat dari Rudolf Dethu. Kenapa demikian, karena saya tergelitik dengan beberapa argumentasi sang Biduan yang terlihat rapi dan sistematis namun terdapat kontradiksi di dalam paparan tersebut.
Saya kembali mencermati argumentasi UCay yang ditulis di Blognya http://alismymiddle.name/blog/dilema-linimasa-tentang-pluralisme-dan-pluralitas. Saya akan beber beberapa argumentasi dia:
Pada angka 2 menyatakan:
“Simple-nya Pluralisme yang di tentang oleh aktivitas ITJ adalah pluralisme teosofi, yakni: semua agama sama, sehingga setiap pemeluk agama akan bingung karena tidak bisa tegas meyakini agamanya benar atau tidak sehingga dipaksa meng-iya-kan dan mengakui bahwa semua agama itu sama. Kalimat “semua agama itu sama” pasti sekilas berkesan toleran dan damai. Padahal inilah cikal bakal seseorang akan melepas agamanya karena menganggap semua agama sama. Pemeluk agama dihadapkan pada kebimbangan (tidak yakin).”
Argumentasi yang disampaikan Ucay jelaslah argumentasi yang keliru (kalau tidak mau disebut keblinger) dalam mendefinisikan istilah Pluralisme itu sendiri. Bagaimana tidak keliru, Ucay dan juga tokoh anti pluralisme lainnya, memandang dan memahami pluralisme sama dengan relativisme agama. Padahal keduanya jelaslah berbeda. Pluralisme bahkan terlihat jelas bertentangan dengan relativisme agama.
Konsep pluralisme sangat plural dan bekerja di beberapa wilayah pemikiran seperti antropologi, sosiologi dan filsafat. Terdapat 3 makna pluralisme, yakni: pluralisme adalah ungkapan deskriptif, mengenai de facto kemajemukan agama (religious diversity), pluralisme juga berarti pengakuan publik akan eksistensi agama-agama tertentu, yang nanti dilanjutkan pada pengakuan negara.pluralisme adalah sebentuk komitmen normatif. Dari tiga pemahaman tentang pluralisme tersebut, disinilah pluralisme menjadi landasan toleransi.
Sedangkan seseorang yang menganut relativisme akan berasumsi bahwa hal-hal yang menyangkut kebenaran atau nilai-nilai ditentukan oleh pandangan hidup serta kerangka berpikir seseorang atau masyarakat. Sebagai konsekuensi dari paham ini, agama apa pun harus dinyatakan benar, atau dengan kata lain “ semua agama adalah benar dan sama”. Karena kebenaran agama-agama, walaupun berbeda-beda dan bertentangan antara satu dengan yang lain, tetap harus diterima. Untuk itu, seorang relativis tidak mengenal apalagi menerima suatu kebenaran universal yang berlaku untuk semua dan sepanjang masa.
Jika demikian adanya, sebenarnya Ucay sedang bicara konsep pluralisme agama atau relativitas agama? Ataukah sesungguhnya kekeliruan ini karena pemahaman yang kurang tepat dan ketakutan yang berlebihan dengan konsep pluralisme, sehingga sampai alfa telah mencampuradukan antara konsep pluralisme agama dengan relativisme agama?
Mari kita lihat pendapat Ucay di angka 7 tulisannya yang menyatakan:
“Istilah Pluralisme Agama ini berasal dari bahasa Inggris, yaitu “religius pluralisme”. Dengan menilik pada maknanya di kamus, dapat ditangkap kesan bahwa istilah ini merujuk pada sebuah sistem yang mengakui koeksistensi keragaman kelompok, baik yang bercorak ras, suku, aliran maupun partai, dengan tetap menjunjung tinggi aspek-aspek perbedaan yang sangat karakteristik dia antara kelompok-kelompok tersebut. Akan tetapi, pada praktiknya, yang terjadi justru sebaliknya, dimana kekuatan sekuler justru menekan agama-agama dengan berlindung dibalik tameng “Pluralisme” (koersif: dari penulis)”.
Bila menelisik dengan cermat, istilah “religius pluralisme” yang dipaparkan Ucay di atas, secara normative tidak ada perbedaan dan pertentangan dengan konsepsi pluralisme agama yang saya sampaikan diatas. Lalu apa yang membuat beda? Perbedaannya terletak pada ketakutan dari Ucay terhadap konsepsi pluralisme yang ditenggarai oleh Ucay sebagai kedok praktik sekularisme agama dengan kalimat: “Akan tetapi, pada praktiknya, yang terjadi justru sebaliknya, dimana kekuatan sekuler justru menekan agama-agama dengan berlindung dibalik tameng “Pluralisme””.
Nah lho! Jika argumentasi ini yang dikedepankan oleh Ucay dan kelompoknya, tentu saja tidak adil menuduh konsep pluralisme agama sebagai sesuatu yang merusak atas dasar ketakutan terhadap praktik sekularisme agama. Padahal tiada yang salah dari konsepsi pluralisme agama kecuali karena paranoid extra tinggi dari Ucay dan kelompoknya.
Bicara kedok-berkedok tentu saja bisa dilakukan oleh setiap orang, setiap kelompok. Tidak hanya menggunakan konsep pluralisme tapi bisa menggunakan konsep multikulturisme dan isme-isme lainnya yang berkonotasi majemuk dan toleransi. Bila demikian, tidakkah sesungguhnya kelompok fundamentalis agama yang sedang berkedok rtoleransi dengan menggunakan jargon “Pluralitas” untuk menyembunyikan hasrat fundamentalisnya di Bumi Bhinneka ini?
PLURALITAS (kemajemukan) adalah keniscayaan dalam kehidupan mengingat secara antropologis bangsa Indonesia adalah plural. Hal ini senada dengan pendapat UCAY pada angka 3 yang menyatakan:
“Jadi yang kita (ITJ) perjuangkan disini adalah Pluralitas. Dimana setiap pemeluk agama berhak meyakini bahwa agamanyalah yang paling benar dan tidak mencapur adukan dengan ajaran agama yang lain. Yang Hindu yakin dengan Hindunya, Kristen yakin dengan Kristennya, Budha yakin dengan Budha, Islam yakin dengan Islamnya. Dan dalam kehidupan bersosialisasi kita tetap saling toleransi. Sikap tegas inilah yang coba kita tebar awareness-nya dan berlaku untuk setiap pemeluk agama sehingga yang namanya kebinekaan tetap terjaga di negara ini…”
Hanya saja, dengan menyetujui Pluralitas agama namun disisi lain menolak Pluralisme Agama tentu saja menimbulkan kebingungan yang lain. Jargon “Pluralitas Yes, Pluralisme No!” tentu saja kontradiktif. Pertanyaannya; bagaimana mungkin pluralitas akan terjaga dalam kehidupan yang plural, bagaimana memperjuangkan Pluralitas agama, memmberikan pemahaman-pemahaman untuk saling menghargai perbedaaan jika Pluralisme sebagai konsep yang mengajarkan pemahaman untuk saling menghargai perbedaan itu telah ditolak?
Atau dengan agak jahil saya bertanya, “kalau konsep pluralisme ditolak sebagai paham yang mengajarkan pemahaman dalam kemajemukan (pluralitas) , lalu disebut apa istilah konsep bagi paham pluralitas?” ehmmm apakah Pluralitasisme, pluralitasbily atau apa? Sampai disini kepala saya bertambah pusing dengan Ucay
Kenapa demikian? Pluarisme sendiri bekerja pada dua bidang: pertama, bidang deskriptif yang hanya mengakui keragaman. Kedua, bidang normatif-deskriptif, yang tidak saja mengakui, melainkan juga hendak memperjuangkan keragaman . Pluralisme tataran pertama merupakan fakta sosial yang tidak terhindarkan. Dari sini diandaikan bahwa masyarakat sejak awal bersifat majemuk, kemudian bersamaan dengan proses modernisasi, munculah proses pluralisasi kehidupan yang semakin kompleks. Sementara bidang kedua, terdapat tiga domain deversitas, yaitu konteks budaya, asosiasi-asosiasi kelembagaan, dan sistem nilai memberi arahan pada kehidupan manusia. (baca; http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2243465-multikulturalisme-pluarlisme-dan-diversitas-sebuah/)
Artinya konsep Pluralitas dan Pluralisme sebenarnya tidak saling meniadakan, tidak bertentangan namun selalu beriringan. Karena pluralisme merupakan sebuah konsep yang menerangkan ideal (baca: ideologi) pengakuan terhadap adanya perbedaan dalam kesetaraan kekuasaan pada masyarakat multikultural. Hanya orang-orang yang tidak paham dengan konsepsi ini baik karena dilatarbelakangi ketakutan-ketakutan berlebihan memanipulasi konsep ini, mensimplikasi sebagai relativisme agama bahkan sekulerisme agama. Maka pernyataan “pluralitas yes, pluralism no” mengandung kontradiksi mahadahsyat
Dan anehnya, jika Ucay berpendapat bahwa keyakinan dia tentang Pluralitas tidak perlu ditabrakan dengan keyakinan orang terhadap Pluralisme karena sama menjunjung tinggi keberagaman (sebagaimana yang dinyatakan dalam http://alismymiddle.name/blog/untitled dengan : “Biarkanlah saya yakin dengan istilah pluralitas dan bli Dethu dengan pluralisme, toh dari blog saya dan blog Dethu sama2 menjunjung tinggi keberagaman”), lalu buat apa jargon “Pluralisme, Injak saja!” itu? Bukankah ini juga kontradiksi yang luar biasa dalam pernyataan Ucay?
Fiuuuh, sebenarnya masih banyak yang mau saya sampaikan, tapi rasanya sudah terlalu banyak tertumpah disini. Aduh Kang, saya kok terenyuh ya?!
27092012





