Viagra

Archive for the ‘TESTIMONY’ Category

ISTIRAHATLAH; AKU TAHU KAMU TERAMAT LELAH (RIP CHANDRA “BADAX” HADINATA)

Monday, February 28th, 2011

ISTIRAHATLAH; AKU TAHU KAMU TERAMAT LELAH

(RIP CHANDRA “BADAX” HADINATA)

by: Gendo

“Ayo dah kita kerjain,” jawaban itu keluar tanpa protes saat ku tawarkan bantuanku untuk kesekiankalinya untuk mendampingi dia  menyelesaikan skripsinya. Biasanya akan banyak alasan yang keluar bibirnya bila kudesak dia untuk segera menyelesaikan skripsinya yang telah lama tertunda -mentok di Bab I-.

Itulah pembicaraan terakhirku dengan Badax (nama panggilan I.G.B. Chandra Hadinata), sebelum akhirnya dia meninggalkan aku untuk selama-lamanya, tanpa sempat mewujudkan impiannya menyelesaikan skripsi dan wisuda. Gagal ginjal plus demam berdarah akhirnya mengambil jiwanya.

——–

Aku sendiri agak heran kenapa pada saat itu Badax dengan antusias menyambut ajakanku untuk mendampingi dia menyusun skripsinya. Aku tidak menyianyiakan waktu, segera ku hunting bahan-bahan untuk kepentingan penulisan skripsinya, aku buat jadwal agar aku lebih leluasa mendampingi dia menulis skripsinya. Rak perpustakaan pribadiku kuobrak-abrik, kucari buku-buku yang sesuai untuk tema skripsinya. Sembari aku tuntaskan seluruh agenda pribadiku agar nantinya bisa konsen untuk damping dia.

Bahan sudah terkumpul, jadwal dan agendaku sudah dibuat, tinggal menyelesaikan agenda baik berupa kerjaan-kerjaan maupun yang telah aku jadwalkan sebelumnya.  Paling lama 2 minggu lagi aku sudah fokus damping dia untuk melanjutkan skripsinya.

Sampai kemudian tanggal 25 Februari 2011, pukul 08.00 Wita aku  terbangun dan kudapati SMS dari Jelantik bilang kalau dia  masuk ICU. SMS itu tercatat masuk ke HPku pukul 06.05 Wita. Aku bergegas bangun dan tanpa membuang waktu aku segera meluncur ke Rumah sakit. Aku mendapat firasat buruk, dan memastikan kondisinya sangat drop.

Begitu sampai di Rumah Sakit , ternyata sudah ada beberapa teman di sana. Aku tidak sempat menyapa semua teman yang ada disana. Aku hanya bertanya kepada Bin -karibku yang sudah duluan disana- keadaan dia, lalu aku bergegas masuk ICU. Kudapati sang Bunda sedang menunggui dia. Begitu aku datang sang bunda memelukku dan menangis. Aku tak bisa berkata, aku diam seribu bahasa. Aku hanya memeluk sang Bunda sambil mengelus punggungnya mengisyaratkan agar beliau tabah. Aku hanya terpaku menatap dia yang terbaring dengan di dipan putih, berselimut putih. Tubuhnya dialiri selang infuse dan banyak selang mesin medis.  Sementara di mulutnya dipasang selang oksigen dan entah selang apalagi, aku tidak terlalu ingat.

Tak terasa airmataku menetes. Pelan-pelan aku lepas pelukan dari sang bunda lalu kuhampiri dia. Kupegang tangannya, kuusap rambutnya. Dia hanya terdiam. Matanya setengah terbuka, namun tatapannya kosong. Paramedic yang ada disampingku bilang bahwa dia dalam keadaan tidak terlalu sadar, namun masih bisa merespon.

Aku dekati telinganya, dan berkata: “Yan, enggalan seger nah, kuatan rage enah, jeg gedenan bayune, yen be seger ajake pragatan skripsi e.” (Yan -panggilan akrabku ke dia- cepet sembuh ya, kuatkan dirimu ya, nanti kalau sehat kita selesaiin skripsinya). Mungkin dia mendengar suaraku, tiba-tiba matanya berlinang, pelupuk matanya penuh airmata, lalu kulihat ada gerakan kecil; sebuah anggukan kepala yang terkesan dipaksakan dengan sekuat tenaga. Tak kuasa aku menahan tangisku, dia ternyata merespos suaraku. kuminta paramedic yang ada disampingku mengambil tissue dan menghapus airmata dia yang jatuh ke pipi.

Sejenak aku menjauhi dipan itu, aku duduk di kursi di depan meja paramedic bersama sang Bunda sembari memandangi mesin yang memperlihatkan catatan medisnya. Tensinya tidak stabil -naik turun-. Sang bunda dengan tekun melihat layar monitor itu, sampai pada saat layar tidak bisa memperlihatkan lagi angka tensi Badax. Sang Bunda bertanya dengan kuatir tentang hal itu. Paramedic yang bertugas menyatakan bahwa keadaan tersebut tidak-apa apa.

Sang Bunda memintaku untuk tetap di dalam menunggui anaknya, lalu dia keluar ruangan. Aku terepekur menatap Badax, batinku perih melihat keadaanya. Ada ketidakrelaan yang sangat membuncah di hatiku. Tak berapa lama datang dokter yang langsung memeriksa keadaan Badak. Lalu dia hendak memberikan penjelasan, kupangil Sang Bunda untuk masuk. Saat Sang Bunda di dalam, dokter menyampaikan bahwa keadaan Badax sudah lebih baik dari sebelumnya, paru-parunya sudah lebih baik dan sudah mampu mengalirkan oksigen ke otaknya. Dokter juga menyampaikan bahwa darahnya Badax kurang bagus sehingga harus dipasang mesin lagi.

“saya mohon dokter bantu anak saya, saya serahkan semua penanganannya kepada dokter.” Jawab sang Bunda atas penjelasan dokter. Setelah itu kami berdua diminta keluar ruangan, karena dokter dan tim medis akan melakukan tindakan.

Aku duduk termangu di luar ruangan, sementara teman-teman Badax semakin banyak yang datang. Penjelasan dokter tadi membuatku agak lega. Aku berdoa semoga benar adanya. Aku berkoordinasi dengan temen-temen yang ada disana untuk mengatur jadwal menunggui di rumah sakit. Setelah itu aku keluar sebentar, karena aku harus ke DPRD bali untuk aksi menolak revisi Perda RTRW.

Aku baru ikut aksi 10 menit, tiba-tiba telponku bergetar. Kulihat nama Domang tertera dilayar HPku. Deg…dadaku terasa terhantam, firasatku buruk. Kuberanikan angkat telpon. Benar saja….Badax tidak tertolong lagi. Aku down..aku kasitahu beberapa teman-teman; Jelantik, Petradi, dan Haris tentnag berita ini . Kupamit dari aksi dan segera segera meluncur ke rumah sakit. Kukebut motorku, dan begitu sampai dirumah sakit, aku langsung menuju ke  ICU. Kupeluk tubuhnya, aku menangis sejadi-jadinya. Aku hampa, kumerasa ada bagian tubuhku yang hilang.

Hampir setengah jam aku memeluk tubuh dia, aku ingin memeluk sahabatku yang sudah melebihi seperti saudaraku sendiri. Aku menangis karena aku belum sempat memenuhi janjiku untuk membantu dia menyelesaikan skripsinya dan mewujudkan impiannya untuk wisuda.

Aku benar-benar berduka………………………………………………………………………….

Denpasar, 1 Maret 2011

PELAN-PELAN SAJA; UNTUK SEORANG TEMAN

Tuesday, March 23rd, 2010

PELAN-PELAN SAJA; UNTUK SEORANG TEMAN

Lelaki itu terhenyak, berkali-kali dia menghela nafas panjang, menarik oksigen sebanyak mungkin. Lalu menghembuskan dengan pelan melalui mulutnya yang kelu seolah-olah sedang mengeluarkan asap rokok, sementara disampingnya sebatang rokok dibiarkan menyala diatas asbak tidak tersentuh.

Batangan rokok itu sepertinya tidak menarik lagi untuk diisap. Lelaki itu sibuk dengan gundah hatinya. Sudah hampir satu bulan dia kehilangan gairah, hidupnya menjadi monoton setiap hari penuh dengan gelegak hati yang tak menentu bercampur dengan resah isi kepala yang membuncah menerjang isi batok kepala dan selalu menyeret kepada satu kenangan masa lalu

“Semua ini terlalu cepat”, pikirnya sembari mengadili dirinya.

Kembali lelaki itu menyesali keadaan yang terjadi lalu mengulang lagi ketertegunannya. Memandangi dengan tatapan mata tidak jelas terkadang genangan airmata mengisi pelupuk matanya. Tangannya seolah kaku, tidak mampu untuk memantik imajinasi, gagal menjadi katalisator otaknya untuk merangkai gagasan kedalam lembaran kertas.

Sejak keadaan itu berubah 180 derajat, semuanya menjadi stagnan. Lelaki itu kehilangan jati dirinya. Dia yang biasanya kuat tiba-tiba ambrol seperti longsoran tanah di musim hujan. Longsor tanpa hadangan sedikitpun sampai ke tempat paling rendah. Menerjang semua keakuannya, mematikan keteguhan hatinya.

“Beginilah cinta, deritanya tiada akhir”, dia berguman, menirukan tokoh Cu Pat Kay dalam film serial Sun Go Khong. Sesaat dia sadar, bahwa ini bukanlah kisah sinetron ini adalah kenyataan, tapi hatinya selalu tidak dapat dibohongi. Sosok perempuan itu begitu imajinatif, mampu menyentuh relung hati yang terdalam.

“Tidak seharusnya aku membuka hati”, sesalnya berkali-kali.

“aku tidak mengindahkan peringatan yang berkali-kali disampaikan nuraniku, bahwa aku tidak boleh membuka hati”, kembali ingatan itu menghujam dirinya, laksana seorang Gladiator yang terhujam pedang para Warrior Roma.

Kesadaran itu datang terlambat. Kini saatnya lelaki itu menerima hatinya terluka karena berani jatuh cinta. Terluka karena saat cinta itu menyeruak, saat itu pula perpisahan menjadi ujung cerita. Dan butuh waktu panjang untuk dia bangkit kembali menjadi seperti sedia kala.

…Lepaskanlah ikatanmu dengan aku

Biar kamu senang

Bila berat melupakan aku

Pelan-pelan saja…

Reffrain lagu Kotak Band yang berjudul “pelan-pelan saja” terdengar sayup-sayup dari MP3. Seolah mewakili pernyataan perempuan itu dan menghantarkan si lelaki kedalam sesalnya semakin dalam, entah sampai kapan. (230310)

BALI ORANGE COMMUNICATIONS; SEBUAH KISAH KANTOR “ON THE WAY”

Tuesday, February 2nd, 2010

BALI ORANGE COMMUNICATIONS; SEBUAH KISAH KANTOR “ON THE WAY”

Oleh: I Wayan “Gendo” Suardana

“On the Way” itulah kalimat yang akan muncul dari seorang pria muda, setiap kali dia dihubungi via telepon untuk bertemu.  Terlepas dia memang benar ada dijalan atau malah masih kucek-kucek mata ditempat tidur. Selanjutnya dengan sigap laki-laki ini akan menanyakan posisi si penelpon seraya setelah mendapatkan info laki-laki ini akan menjawab “kebetulan saya dekat denagn posisi anda, bisakah kita bertemu lokasi anda sekarang?”. Jika orang tersebut mengiyakan maka dengan segera laki-laki ini bersiap menuju ke lokasi.

Ini bukan kisah seorang pria muda yang sedang kasmaran, atau kisah seorang ABG yang latah dengan bahasa OTW. Kisah diatas adalah sekelumit kisah seorang pria muda bernama Hendro (sang Founding father Bali Orange Communications yang dalam tulisan ini selanjutnya disebut sebagai BOC).

Tapi itu kisah dulu, sekitar tahun 2000-an tatkala BOC masih dirintis dengan modal komputer pas-pasan. Dan tentu saja kisah ini mencuat karena BOC waktu itu adalah sebuah usaha dengan alamat kantor pinjaman. Sejatinya tempat kerja mereka berawal dari warnet (karena Hendro bekerja part time sebagai penjaga warnet) lalu beralih ke kost-kostan.  Inilah latar belakang kenapa BOC disering dikatakan sebagai Kantor “On the Way”. Karena tidak mungkin mengajak bertemu klien di kost-kost an yang menjadi kantor asli mereka.

(more…)

Survivor; Perempuan Itu…? [2]

Tuesday, March 24th, 2009

Sambungan dari Survivor; Perempuan itu…? [1]

[Survivor]; Perempuan Itu…? [2]

Oleh I Wayan “Gendo” Suardana

Made Israwin namanya, anak perempuan satu-satunya di keluarga itu, tumbuh berkembang dengan tiga saudara lainnya -yang semuanya laki-laki-. Kade, begitulah panggilan bagi perempuan ini -sebuah panggilan yang umum diperuntukan bagi anak nomor dua di Bali-. Jarak kelahiran yang tidak begitu jauh menyebabkan Kade dan saudara-saudaranya kelihatan sebaya. Mereka cukup sederhana karena memang lahir dari keluarga yang sederhana pula.

Awalnya, kehidupan keluarga ini lebih dari cukup. Dengan pendapatan ayahnya sebagai seorang Tukang cukur rambut -yang sangat terkenal – membuat secara ekonomi keluarga ini tidak ada permasalahan. Masa kecil empat bersaudara ini  tidak ada permasalahan sama sekali.

Pagi hari mereka bersama-sama berangkat ke Sekolah Rakyat, kecuali Ketut -laki-laki paling bungsu-  yang tetap di rumah karena dia belum bersekolah. Lalu pulang sekolah membantu ibunya untuk mengurus peliharaan babinya, mulai dari memberi makan sampai membersihkan kandangnya. Dan setelah itu pergi bermain bergabung dengan teman-teman lainnya di kampung dan kembali pulang menjelang sore.

Entah kapan dera itu mulai datang. Kurang lebih saat usia Kade menginjak 8 tahun, tiba-tiba ada suatu kelainan yang terjadi pada kulitnya. Tumbuh bintik-bintik merah dihampir seluruh permukaan kulitnya. Awalnya hanya bintik-bintik merah -tidak terlalu- gatal, tapi tetap menyiksa bagi anak perempuan seumur Kade.

(more…)

Survivor; Perempuan itu…? [1]

Saturday, March 21st, 2009

Survivor; Perempuan Itu…? [1]

Oleh: I Wayan “Gendo” Suardana

“Yan, kamu pegang daun ini, nanti setiap 10 ekor belut kamu belah kecil daunnya ya”, demikian kata seorang perempuan di sore hari kepada anaknya, saat akan menghitung belut yang akan dijual ke pasar keesokan harinya.

Inilah aktivitas yang kerap dilakukan setelah perempuan itu datang dari pasar di sore hari, -tentu setelah mandi dan mengisi perutnya-. Tidak nampak gurat keletihan diwajahnya, walaupun bangun jam empat subuh memasak makanan untuk anaknya sembari menyiapkan dagangannya yang akan dia angkut kira-kira sejam kemudian.

Berkemben batik berbaju kaos, jarak 3 kilometer dilakoninya dengan berjalan kaki ke pasar induk, berbelanja barang tambahan dan selanjutnya naik angkutan kota menuju pasar cabang. Lalu menggelar menggelar dagangannya dari pagi sampai sore hari. mengemas dagangannya -entah habis atau tidak- lalu berjalan pulang melewati jalan lain -melewati persawahan sebagai jalan pintas dari pasar cabang- menuju kerumah.

(more…)

Kesaksian Korban Pasal Lese Majeste

Wednesday, June 11th, 2008

Kesaksian Korban Pasal Lese Majeste
Penulis : I Wayan “Gendo” Suardana

Ini merupakan sedikit dari pengalaman hidup yang telah saya lalui sebagai suatu pedoman saya untuk melangkah ke depan.

Lahir di sebuah desa di Ubud, tepatnya di Banjar Padangtegal Kelod – Gianyar 30 tahun silam, dengan nama I Wayan Suardana sering dipanggil Gendo. Saya dibesarkan oleh Ibu semenjak ditinggal Bapak pada usia dua tahun, seorang ibu yang cuma tamatan kelas tiga SD dan pedagang kelontong di pasar desa. Seorang perempuan dengan status janda yang didera penyakit menahun, tapi mampu mengantarkan saya hingga jenjang mahasiswa.

Semangat untuk survive itu membuat saya tidak ragu untuk mengatakan bahwa beliau sebagai sumber inspirasi. Sosok idola yang kemudian meninggalkan saya untuk selama-lamanya pada tahun 2000 sehingga menambah label bukan hanya yatim tapi lengkap menjadi yatim piatu. Penerapan disiplin ala tentara dalam keluarga secara tidak sadar membentuk karakter dan watak saya menjadi keras dan selalu memberontak. Sehingga tudingan sebagai anak nakal, bandel, nilai raport merah – jauh dari kriteria sebagai anak baik- acapkali tertuju kepada diri saya. Mungkin dengan menentang aturan yang saya anggap sebagai suatu alat menekan dan mengekang itulah yang kemudian saya yakini sebagai arti kata ?lawan?.

(more…)