Negri Surga Bencana dan Parau Mengerang 3


Negri Surga Bencana dan Parau Mengerang*
Oleh: I Wayan Gendo Suardana

Parau, suaranya serak berat, musiknyapun berat buat saya. Menghentak-hentak, menghujam adrenalin, robek lalu menyikat syaraf kepala, membuatnya seperti kesurupan. Tak peduli rambut gondrong-panjang atau cepak sekalipun, semua orang headbang.

Saya harus jujur. Saya adalah salah satu orang penggemar metal yang jarang hafal lirik. Hanya saja saya sangat senang “mengumbar” kepala, bila perlu sampai rambut panjang menyentuh lantai venue. Dari semester awal kuliah posisi saya selalu berdiri sigap jika alunan metal sudah dapat giliran di atas Panggung. Berbaris di depan panggung lalu berangkulan melemparkan kepala ke segala arah hingga esok harinya butuh waktu beberapa saat untuk menoleh jika disapa orang.

Perkenalan saya dengan Parau secara detail sekitar tahun 2004-an awal (agak lupa tahunnya). Agak lucu, saat itu saya masih di aktif di organisasi kampus yang sedang menggagas Music On the Truck untuk tahun ke 2. Sayup-sayup saya mendengar nama band Parau dimasukan sebagai salah satu nominasi aliran metal –saat itu konsepnya adalah memainkan semua aliran dalam satu panggung-. Saya beserta tim berupaya mendalami usulan ini, sampai akhirnya secara tak sengaja kami –saya dan Ghigox sang vokalis- bertemu di sebuah acara musik di kampus Udayana. Saat itu saya kaget, ternyata yang diperkenalkan adalah orang yang notabene cukup lama di perhelatan metal. Saya terkaget –kaget dan akhirnya kami cekikikan sesaat. Parau main di acara Music On the Truck, tentu setelah melalui rapat secara obyektif di kepanitiaan.

Itulah pertautan pertamakali dengan Parau. Sebagai teman lama tentu saja saya cepat akrab dengan Band ini, terlebih dengan Onche -pembetot bass- yang menurut saya berpenampilan sangar tapi berprilaku kocak plus kawan lama. Belum lagi orang-orang di balik layar yang ramah renyah. Ah lagi-lagi, saya bukan pengulas musik yang baik sehingga saya tak sanggup menulis sisi karya mereka kecuali mengulas hal-hal yang menarik dari pengamatan sederhana. Yang jelas bersama Parau, saya melewati beragam acara charity yang memberikan rasa nikmat dalam tautan nafas saya.

Seperti beberapa band yang pernah saya tulis, testimoni ini tak berbeda jauh. Parau adalah salah satu Band yang bersama-sama merintis gerakan sosial yang asik di Bali, mungkin di Indonesia. Bersama merekalah saya dkk kerap mendirikan panggung seni untuk sosial. Tiada uang sepeserpun yang keluar dari kepanitiaan. Jangankan uang untuk penampilan mereka, bahkan sekedar pengganti senar gitar yang putus ataupun pengganti stick drum yang patah tak pernah mereka minta. Semua menjadi tanggungan setiap band yang tampil termasuk Parau.

Selain Music On the Truck yang turut saya gagas, Parau sangat sigap diajak bersinergi dalam berbagai acara sosial, seperti panggung musik dari Bali untuk Jogja yang diselenggarakan di Lapangan Pegok Sesetan -acara solidaritas Jogja-. Acara yang menyatukan juga 3 manager cum organizer saat itu (Rahman, Gus Mantra dan Rudolf Dethu). Masih banyak acara lain, sayangnya batok kepala saya tidak cukup mengingatnya. Namun demikian ada beberapa cerita khusus yang lekat di kepala saya terutama dalam advokasi Menolak Reklamasi Teluk Benoa.

 

Berjuang tiada henti

Parau adalah band yang sedari awal juga terlibat penuh dalam advokasi ini. Tidak hanya di panggung musik yang kami gelar tetapi juga di jalanan, bersama-sama berteriak agar kuping Penguasa tidak bebal lagi.

Akhir tahun 2014, ForBALI bersama Rakyat Tanjung Benoa melakukan aksi massa di tengah Teluk Benoa dan dilanjutkan dengan acara musik di pinggir pantai. Parau juga turut hadir dan mendedikasikan diri dalam acara tersebut. Uniknya, walaupun saat itu Ghigox –sang vokalis- berhalangan hadir karena ada acara yang tidak bisa ditinggalkan, Parau tetap datang dan manggung. Saya dalam hati tak kuasa menahan haru, mereka main dengan additional vokal. Hasilnya, tetap keren, greget dan dahsyat. Selesai main saya segera ke belakang panggung. Dalam suasana pantai yang gelap, saya berkali-kali mengucapkan terimakasih. Totalitas mereka yang membuat saya begitu haru.

Tak hanya selesai sampai disitu. Saat ForBALI bersama kelompok pegiat musik dan seniman bahu-membahu membuat acara di Padanggalak bertajuk “Tolak Reklamasi Teluk Benoa Art Event” -satu acara yang dilakukan untuk mengkampanyekan gerakan rakyat Bali menolak reklamasi Teluk Benoa yang sampai detik ini dipaksakan oleh kekuasaan dan pemodal dengan berbagai cara-. Acara yang minim dana namun berhasil membuat gebrakan dan bahkan dihadiri kurang lebih 50 ribu orang. Dahsyat!

Parau  dijadwalkan main sebagai penampil puncak –setelah Superman Is Dead dan Nymphea-. Namun apa daya, banyaknya kawan-kawan seniman yang mau main membuat waktu yang dijadwalkan tidak cukup. Padahal acara tersebut digelar dari pagi -12 jam-. Jam 23.00 wita pihak kepolisian sudah memperingati agar acara selesai, sementara 3 band belum manggung termasuk Parau. Negosiasi tidak behasil penuh, pihak kepolisian hanya memberi toleransi 1 band saja, akhirnya Nymphea dan Parau tidak bisa main.

Duh! Saya dan Gung Anom Antida sudah kehabisan akal. Kami berdiskusi termasuk dengan STT. Yowana Dharma Kretih Kedaton Kesiman -panitia bersama-. Negosiasi kami tak tercapai penuh dan dengan terpaksa kami menyampaikan kepada Nymphea dan Parau yang sedang “pemanasan” di belakang panggung. Gung Anom sebagai sesepuh acara yang berbicara kepada teman-teman ini. Sementara saya sudah terduduk lemas di kursi yang ada di belakang panggung. Perasaan saya waktu itu sudah campur aduk.

Tak diduga, Ghigox mendekati saya yang sedang duduk menundukan kepala – rasanya berat 2 ton- hehe, dia memegang saya sambil berkata: “bro, santai jangan kayak gitu, Kami santai kok”. Wah saya kaget luar biasa, saya meminta maaf atas keadaan itu. Tapi lagi-lagi Ghigox membesarkan hati saya: “Bro, kan acara kita gak berhenti sampai di sini aja, ayolah semangat, jangan sedih. Santai kamu harus fokus menyelesaikan acara ini. Ini acara kita bersama.” Kata-kata itu terekam di kepala syaa sampai detik ini. Belum lagi Onche dan manager Band menghampiri dan menyemangati saya. “Ok, mari kita tuntaskan kerja ini,” demikian semangat Saya terlecut.

Mungkin yang membaca cerita ini, bisa beranggapan ini sandiwara atau kepura-puraan dari Parau. Jika ada yang berpendapat begitu maka saya pastikan itu anggapan itu salah. Mereka benar-benar tulus, karena setelahnya Parau tetap hadir dalam aksi-aksi yang kami gelar di renon dengan semangat yang sama, dengan teriakan yang masih sama, Lawan! Demikian juga Parau tetap bersedia tampil dalam acara lanjutan dengan panggung di atas Laut Padang galak “pagelaran yang tertunda”. Parau tetap hadir, formasi lengkap dengan kegarangan yang sama dengan semangat bermusik yang tetap cadas.

Ah, kalian memang hebat. Parau namamu bukan keparauan idealismemu. Lirik lagumu tak sumbang jadi nada garang di atas panggung. Lagumu adalah manifestasi suara hatimu dan tindakan perlawananmu. Melawan kekuasaan yang tak punya hati, andalkan teori rekayasa yang terbukti cacat. Mereka kaum “terorema cacat empiris”

Lidah berbisa
Lahirkan rekayasa
Pandai bicara
Singkirkan fakta
Tak mau mengalah
Benarpun kau tak pernah
Andalkan gengsi
Cacat berikan bukti…

 

Suaramu Parau, setidaknya mencoba menghajar kuping dan nurani Penguasa sebelum Bali ini menjadi “Surga Bencana” dan Pralaya menghapus cerita perjuangan semesta melawan pengkhianat alam.

 

Denpasar, 19 Maret 2015
*Kudedikasikan tulisan ini bagi Parau. Tulisan yang seharusnya sudah kubuat sejak 2010. Maju terus Kawans


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 thoughts on “Negri Surga Bencana dan Parau Mengerang

  • Robi Navicula

    Nice, bro! Btw band ini seingatku lahir di rumah Made Indra (bassist Navicula), formasi awal: Gayot (vocal), Made Indra (gitar), Onche (Bass), Usrok (Drum). Dan turut bangga, waktu lagi milih nama band, aku ikut andil dengan memilih nama Parau . Ikut bangga band ini jadi band keren hingga saat ini *milu sik bangga* 😉

  • lodegen

    jelang paragraf akhir aku menitikkan air mata nok. padahal di judul udah males krn ada ada byline penulisnya udah spt karya ilmiah :) yuk yuk tulis kisah2 band bali lainnya yg kece. soale kuang gaul