PEMILU 2009 DAN KEDAULATAN RAKYAT*

September 8th, 2009

PEMILU 2009 DAN KEDAULATAN RAKYAT*

I Wayan “Gendo” Suardana, S.H. **

Sekapur Sirih

Bila memperhatikan catatan Ilmuwan politik Samuel P. Huntington bahwa, era transisi mestinya berakhir setelah ada dua kali pemilu berkala yang demokratis, dimana pemilu-pemilu tersebut mengantarkan suatu rezim demokratis, yang bekerja atas dasar konstitusi yang demokratis pula. (Samuel P. Hutington, 1991). Maka tidak dapat dipungkiri bahwa pemilu 2009 sesungguhnya mempunyai arti yang penting pasca jatuhnya rezim Orde Baru yang diikuti dengan Pemilu 1999 dan pemilu 2004.

Apabila merujuk pada catatan tersebut, maka sepatutnya pada tahun 2009 -ditandai dengan pelaksanaan Pemilu 2009- Indonesia sudah mulai mengakhiri masa trasisi demokrasi dan masuk ke era konsolidasi demokrasi, pada 2009 ini?

Perhelatan Pemilu 2009 dapat dikatakan telah selesai. Sebagian besar agendanya telah terlaksana dan hanya tinggal menyisakan pelantikan legislatif dan Presiden/Wakil Presiden saja akhir tahun ini. Namun posisi penting pemilu 2009 ini -sebagai penanda masuknya Indonesia ke tahap era konsolidasi demokrasi- Read the rest of this entry »

Malaikat: “KUgendong Mbah Surip ke sisiNYA”

August 5th, 2009

Malaikat: “KUgendong Mbah Surip ke sisiNYA”

I Wayan “Gendo” Suardana

Suara riuh dari sebuah lapangan bola volley di tengah-tengah desa di Kuta Utara membuat konsentrasi saya buyar saat mengikuti sebuah pelatihan. Kebetulan tempat tersebut dekat dengan Lapangan Volley dimana disana digelar kejuaraan antar kampung. Apalagi pertandingannya digelar malam hari diiringi komentator amatiran yang mengiringi setiap aksi dari pemain volley melalui sebuah toa yang cukup membuat telinga seolah bengkak.

Namun di setiap jeda set dari sebuah pertandingan, pasti kepala saya bergoyang-goyang dan sambil senyum;

……Tak Gendong kemana-mana

Tak gendong kemana-mana

enak dong, mantep donk

daripada kamu naik pesawat kedinginan…

mendingan tak gendong toh..

enak to, mantep to..

ayo mau kemana…

yach, lirik lagu bergenre reagge ini membuat saya seketika enjoy. Tak terbayang hampir seluruh peserta pelatihan selalu bergoyang saat lagu ini diputar, padahal hanya didengar melalui sebuah Toa -soundsystem yang sebenarnya tidak cukup menghantar lagu untuk diperdengarkan secara nyaman-.

Awalnya memang saya tidak tertarik dengan lagu ini. Padahal sebelumnya saya beberapa kali saya sudah mendengarnya. Tapi waktu itu saya sama sekali tidak tertarik dan cenderung “mencemooh” lagu ini. Lirik lagu yang sederhana, suara serak yang keluar dari mulut seorang yang sudah uzur turut mempengaruhi cara pandang saya akan keunikan lagu ini. Saking tidak tertariknya, saya tidak ingat siapa yang menyanyikan, kecuali seorang kakek dengan dandanan ala Rastafara.

Hingga pada saat momentum pelatihan, justru saya baru bisa enjoy dan mulut saya komat kamit menirukan lagu itu. Sangat gampang, menirukan liriknya saking sederhannanya tapi begitu menghanyutkan. Dan keadaan ini sungguh kontradiktif. Saya justru menikmati lagu tersebut saat diperdengarkan dari sebuah Toa. Hmmm mungkin bukan masalah soundsystemnya tapi mungkin karena jiwa saya baru terusik tatkala melihat orang-orang begitu sumringah mendendangkan lagu ini. Saat itulah saya baru bisa mengenali bahwa lagu ini begitu asik, unik, justru karena kesederhanaannya dan dibawakan juga oleh kakek yang terkesan eksentrik tetapi tetap dengan balutan kesederhanaan.

Saat kepala saya bergoyang sambil tersenyum melihat tingkah polah temen-temen yang bergoyang mengikuti lagu tersebut, ups! saya baru tersadar, bahwa saya tidak tahu nama penyanyinya. Yach nama si kakek yang sempat membuat saya menyangka dia adalah orang gila dan bahkan sempat terpikir menuduh sang produser adalah orang yang tidak mengerti musik karena mau merekam dan menampilkan lagu yang tidak bermutu.

Seketika itu pula saya bergegas bertanya kepada seorang kawan. Begitu saya menanyakan nama penyanyinya, kawan saya tertawa terbahak-bahak sambil mengejek,:”jadi kamu selama ini kamu goyang-goyang kepala ngapain?”, begitulah dia berkata sembari memberitahu saya bahwa penyanyi itu bernama Mbah Surip.

Sejak saat itu saya nulai tertarik dengan Mbah Surip sehingga saya searching sosok Mbah Surip di internet. Mmmm sosok yang demikian misterius, semakin membuat saya sering mengikuti beritanya. Sampai kemudian seorang teman yang mengirimkan SMS dan memberitahukan sosok itu meninggal dunia. Saya kaget, rasanya belum puas saya menyusuri kehidupannya ternyata dia telah pergi. Seperti tersentak, saya terbawa oleh sebuah ingatan entah beberapa lama waktu ke belakang. Sepertinya saya beberapakali menjumpai sosok tua berambut gimbal di Wapres (warung Apresiasi) Bulungan, mmm mungkinkah itu Mbah Surip?

Ah, saya tidak mau terhanyut lebih lama.

Mbah, kemarin banyak artis yang telah kamu gendong, banyak orang yang kamu mau gendong dengan lagumu, tetapi saat ini ditengah semua orang berharap kamu gendong dengan nyanyianmu ternytaa mereka sudah harus mengendong jasadmu.

Selamat Jalan Mbah Surip.

Semoga malaikat menggendongmu samapai disisiNYA.

Diatas bumi, 5 Agutus 2009

Kami Tidak Takut. Huh?

July 31st, 2009

[Surat Seorang Kawan];

Kami Tidak Takut. Huh?*

dari: Rudolf Dethu

Kerabat Puspawarna,

Saya perhatikan belakangan ini berbondong-bondong orang di sekitar saya—kebanyakan anak muda—menggabungka n dirinya di Indonesia Unite, sebuah komunitas yang dibentuk untuk merespons peristiwa bom Ritz-Marriot 17 Juli 2009 sekaligus menyebarkan semangat anti terorisme.  Saat tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 170 ribu orang menjadi anggota Indonesia Unite di Facebook. Komplet dengan limpah ucapan-ucapan berbau nasionalisme di Wall-nya.  Sungguh mencengangkan lagi membanggakan bagaimana sejawat se-Nusantara membusungkan dada menunjukkan kecintaannya pada negara bernama Indonesia, bahu membahu melawan penjahat HAM berkedok agama bersenjatakan bom, seraya penuh patriotisme berteriak: Kami Tidak Takut!

Kami tidak takut. Huh? Ini masalahnya. Saya kurang paham apa sejawat, sobat, kerabat, saya itu benar-benar tidak takut dengan bom yang mematikan tersebut. Saya pribadi mah masih sedikit menggigil merinding dan agak trauma dengan peristiwa mengerikan itu (ketika Bom Bali I saya berada hanya lusinan meter dari lokasi ledakan bom dan menyaksikan sendiri semburan api nan masif & merasakan gelegarnya yang gigantik). Hanya saja mungkin karena ledakan bom di negara ini sudah jadi makanan sehari-hari, makanya saya, dan mungkin juga rekan-rekan di Indonesia Unite, merasa bahwa peristiwa bom adalah semacam “same shit different day” alias sudah terbiasa. Read the rest of this entry »

NEOLIBERALISME DAN PENGALAMAN INDONESIA

July 12th, 2009

NEOLIBERALISME DAN PENGALAMAN INDONESIA

Anto Sangaji

PENGANTAR

NEOLIBRALISME, sering dipertukarkan dengan fundamentalisme pasar (market fundamentalism) (Stiglitz, 2006:576), menjadi kata yang populer saat ini. Menjelaskannya tidak mudah, tetapi kalau ada kata lain yang bisa dipakai untuk menggantikannya agar mudah dipahami secepat kilat, maka pilihannya mungkin jatuh pada kata ‘kemerdekaan’ atau ‘kebebasan’ (freedom). Ada alasannya, karena Milton Friedman, penerima nobel tahun 1976 dan penulis buku ‘Capitalism and Freedom,’ yang dianggap salah seorang penggagas ide-ide neoliberalisme, menjadikan freedom sebagai hal paling pokok dalam gagasan-gagasannya. Di buku tersebut, dia menandaskan bahwa kemerdekaan ekonomi adalah keharusan menuju kemerdekaan politik (Friedman, 1962).

Tetapi freedom adalah kata yang mengundang banyak tafsir, tergantung siapa yang menafsirkan. Seperti kata Matthew Arnold ‘freedom is a very good horse to ride, but to ride somewhere’ (dikutip oleh Harvey, 2005:6). Ketika di tahun 2005, sekelompok kelas menengah terpelajar di Jakarta, misalnya, memanfaatkan ruang terbuka reformasi, dengan bebas memasang iklan mendukung kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, sebuah program di bawah payung neoliberalisme. Itu adalah freedom, bukan karena beberapa orang di antara mereka adalah aktivis ‘Freedom Institut,’ tetapi itulah contoh sederhana apa itu kemerdekaan berpendapat, tergantung siapa yang melakukannya.

Read the rest of this entry »

KEMBALINYA REZIM IJIN: Demokrasi di Ujung Tanduk

July 9th, 2009

KEMBALINYA REZIM IJIN: Demokrasi di Ujung Tanduk

sumber: http://www.walhi.or.id/

Jakarta (16/6). Dalam kurun beberapa tahun belakangan, tercatat berbagai gerakan penyampaian pendapat dari warga Negara mengalami tekanan, baik bersifat pembubaran, pelarangan bahkan kriminalisasi dengan menggunakan hukum pidana. Pemidanaan tersebut memanfaatkan berbagai pasal-pasal haatzaai artikelen dan lese majesty serta pasal-pasal “karet” lainnya yang masih berlaku dalam hukum positif Indonesia. Tindakan-tindakan tersebut secara massif dilakukan dalam upaya membungkam kritik yang dilakukan oleh warga negara.

“Kebebasan menyampaikan pikiran dan pendapat di muka umum, sebagaimana yang dilindungi oleh konstitusi UUD 1945, semakin sering dibungkam oleh aparat, khususnya kepolisian, dengan kembali diberlakukannya rezim perijinan”, ujar I Wayan “Gendo” Suardana, Koordinator Gerakan Anti Pembungkaman Demokrasi.

Berdasarkan data WALHI, sejak tahun 2004 hingga 2009 setidaknya terdapat 19 kasus pelanggaran hak atas kebebasan bereskpresi dan menimbulkan puluhan korban baik aktivis demokrasi, pejuang lingkungan, Pembela hak asasi manusia, aktivis mahasiswa dikriminalisasi; ditangkap, diadili bahkan dipenjara.

Salah satu tindakan yang paling menonjol saat ini adalah mempolitisasi UU No. 9 tahun 1998 dari sebatas pemberitahuan menjadi rezim ijin. Pergeseran substansi ini dilakukan dengan memperalat Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP) dijadikan alat bargaining oleh Kepolisian agar kelompok yang hendak menggunakan hak untuk menyampaikan pendapat di muka umum mengikuti kemauan mereka. Pada tahap ini aparat kepolisian kerap tidak memberikan STTP kepada kelompok yang akan menggunakan haknya untuk berekspresi. Pengabaian kewajiban oleh kepolisian untuk mengeluarkan STTP sebagaimana yang diatur oleh Pasal 13 ayat (1) huruf a UU No. 9 tahun 1999 yang menyatakan: “Setelah menerima surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 Polri wajib: a. segera memberikan surat tanda terima pemberitahuan”.

Dalam berbagai kasus, Polisi seringkali mengarahkan kegiatan penyelenggaraan penyampaian pendapat di muka umum sebagaimana yang diatur dan dijamin oleh UU No. 9 tahun 1998 menjadi kegiatan keramaian yang serta merta harus mengikuti tata cara perijinan pengadaan keramaian. Juklap Kapolri No. Pol: Juklap/2/XII/1995 secara efektif digunakan untuk menghalang-halangi kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Terdapat berbagai peristiwa, misalnya: (1) Pembubaran acara Forum Keadilan untuk Kelautan dan Perikanan di Manado tahun 2009, (2) pembubaran Kongres Golput di Jogjakarta,tahun 2009, (3) Pembubaran acara diskusi “Pembangunan Pabrik Semen Sukolilo: membawa keuntungan bagi masyarakat lokal?” tahun 2009, dan masih banyak lagi yang lainnya.

Padahal seharusnya sejak diberlakukannya UU No. 9 tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum, maka sepatutnya segala hal yang berkaitan dengan penyampaian pendapat dimuka umum termasuk seminar, kongres, dll hanya tunduk kepada UU tersebut. Secara mutatis mutandis Juklap Kapolri No. Pol: Juklap/2/XII/1995  sudah tidak berlaku dalam pengaturan penyampaian pendapat di muka umum. Penggunaan Juklap tersebut dalam upaya mengatur pelaksanaan penyampaian pendapat dimuka umum telah melampaui yuridiksinya sepatutnya menimbulkan pertanyaan dan evaluasi mendalam bagi aparat kepolisian yang secara massif menggunakan juklap tersebut pasca pemberlakukan UU No. 9 tahun 1998.

Karenanya,  Gerakan Anti Pembungkaman Demokrasi meminta kepada Komisi III DPR RI untuk segera melakukan pemanggilan kepada Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk memberikan penjelasan terkait dengan implementasi UU No. 9 tahun 1999 dan Juklap Kapolri No. Pol: Juklap/2/XII/1995. Selain itu, Gerakan Anti Pembungkaman Demokrasi juga mendesak kepada DPR RI dan Pemerintah RI untuk memberikan jaminan atas kebebasan masyarakat sipil untuk menyampaikan pendapat di muka umum secara merdeka.

GERAKAN ANTI PEMBUNGKAMAN DEMOKRASI

WALHI, HRWG, IHCS, SPI, LBH Masyarakat, KONTRAS, Institute Hijau Indonesia, INFID, LBH Jakarta, FPPI, PBHI, IMPARSIAL, LBH Pers, Sawit Watch, KpSHK, PBHI Jakarta, Perkumpulan PRAXIS, JATAM, KIARA, KPA, SHI, Solidaritas Perempuan

Kontak Person: I Wayan “Gendo” Suardana - 08563700677

[Puisi Widji Tukul] “Peringatan”

June 14th, 2009

Peringatan

Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gawat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!

[Puisi Widji Tukul] “Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa”

June 14th, 2009

Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa

aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat
penguasa

puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap
yang berkeringat dan berdesakan
mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk-tusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka

kata-kata itu selalu menagih
padaku ia selalu berkata
kau masih hidup

aku memang masih utuh
dan kata-kata belum binasa

(Wiji Thukul.18 juni 1997)

Seorang sahabat, Wiji Thukul

June 14th, 2009

Seorang sahabat, Wiji Thukul

Oleh Linda Christanty

15.34, Selasa, 23 Juni 1998

MARCEL tidak kembali juga. Dia seperti serpihan dari pesawat luar angkasa yang  meledak di ruang hampa, lepas dari jangkauan grafitasi bumi. Hilang. Begitu pula, Sadeli. Kata H, menurut Mulya Loebis, Sadeli mungkin sudah dieksekusi. Jati dan Reza sudah kembali. Nezar, Aan, dan Mugi bebas bersyarat. Kata beberapa kawan, Marcel disembunyikan para pastor di Filipina. Tapi, aku tidak percaya. Menurut kawan-kawan, dia hilang di Tangerang (setelah bertemu A).

Aku pernah sekali melihat ibunya muncul di televisi. Sepasang mata perempuan itu redup berair. Bagaimana ia bisa memahat sepasang mata yang selalu bersinar dan terus-terang pada wajah putranya? N sempat bercerita tentang 103 mayat korban penembakan serta penganiayaan yang mengambang di Kali Bekasi, beberapa waktu setelah kasus penembakan 12 mahasiswa Trisakti. Berita ini ditayangkan Horison. Apakah mereka berdua ada di antara mayat-mayat itu?

Marcel adalah nama lain untuk Bimo Petrus Anugerah, sedang Sadeli adalah nama alias untuk Herman Read the rest of this entry »

NASIB KORBAN PELANGGARAN HAM MASA LALU PASCA PILPRES 2009

June 3rd, 2009

Buletin

SADAR

Simpul Untuk Keadilan dan Demokrasi

Edisi: 209 tahun V- 2009

Sumber: www.prakarsa-rakyat.org

NASIB KORBAN PELANGGARAN HAM MASA LALU PASCA PILPRES 2009


Oleh I Wayan “Gendo” Suardana*

“Pasangan Jusuf Kalla-Wiranto dan Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto setuju menegakkan hak asasi manusia dan menghukum mereka yang melanggarnya. Hal itu ditegaskan oleh tim sukses dan petinggi Partai Golkar, PDI Perjuangan, serta Partai Gerakan Indonesia Raya kemarin,” inilah petikan berita dari Koran Tempo (27/5/2009). Tampaknya kedua kubu ini sadar bahwa mereka adalah sasaran tembak dari isu pelanggaran HAM mengingat kedua cawapresnya (Wiranto dari JK Win dan Prabowo dari Mega Pro) adalah mantan Jenderal yang diduga kuat sebagai pelanggar HAM masa lalu.

Saya tidak hendak membahas konstelasi pertarungan para kandidat Presiden dan Wakil Presiden dalam pilpres ini ataupun masuk ke dalam ruang-ruang pencitraan setiap kandidat capres dan cawapres. Tulisan ini dibuat karena pernyataan para tim sukses ini menggelitik akal sehat saya. Bukan mempermasalahkan tekad dan niat mereka untuk menegakkan HAM dengan berjanji untuk mengusut kasus HAM dan sekaligus menghukum para pelakunya. Permasalahannya justru ketika tekad tersebut digarisbawahi dengan syarat bahwa pengusutan kasus HAM akan dilakukan asal tidak mengungkit isu HAM yang terjadi di masa lampau. Bahkan secara terbuka tim sukses ini menyarankan agar masyarakat dan pemerintah lebih baik fokus ke depan sehingga kasus serupa tidak lagi terjadi.


Menyuburkan Amnesia Sejarah

Perjuangan bagi pengungkapan kasus pelanggaran HAM masa lalu mengalami pasang surut. Mulai dari Read the rest of this entry »

Cinta Sang Nabi [Kahlil Gibran]

May 25th, 2009

Ketika cinta memanggilmu, ikutlah dengannya
Meskipun jalan yang harus kautempuh keras dan terjal
Ketika sayap-sayapnya merengkuhmu, serahkan dirimu padanya
Meskipun pedang-pedang yang ada di balik sayap-sayap itu mungkin akan melukaimu
Dan jika ia berbicara padamu, percayalah
Meskipun suaranya akan membuyarkan mimpi-mimpimu bagaikan angin utara yang memporakporandakan petamanan.

Cinta akan memahkotai dan menyalibmu
Menumbuhkan dan memangkasmu
Mengangkatmu naik, membela ujung-ujung rantingmu yang gemulai dan membawanya ke matahari

Tapi cinta juga akan mencengkeram, menggoyang akar-akarmu hingga tercerabut dari bumi
Bagai seikat gandum ia satukan dirimu dengan dirinya
Menebahmu hingga telanjang
Menggerusmu agar kau terbebas dari kulit luarmu
Menggilasmu untuk memutihkan
Melumatmu hingga kau menjadi liat
Kemudian ia membawamu ke dalam api sucinya, hingga engkau menjadi roti suci perjamuan kudus bagi Tuhan.
Semuanya dilakukan cinta untukmu hingga kau mengetahui rahasia hatimu sendiri, dan dalam pengetahuan itu kau akan menjadi bagian hati kehidupan.

Jangan biarkan rasa takut bersarang, agar kau tak hanya menjadikan cinta tempat mencari senang.
Karena akan lebih baik bagimu untuk segera menutupi ketelanjangan dan berlalu dari lantai penebahan cinta,
Menuju dunia tanpa musim dimana engkau akan puas tertawa, gelak yang bukan tawamu, dan engkau akan menangis, air mata yang bukan tangismu.

Cinta tidak memberi apapun kecuali dirinya sendiri dan tidak meminta apapun selain cinta itu sendiri,
Ia tidak memiliki dan tidak dimiliki
Karena cinta hanya untuk cinta

Ketika engkau mencinta jangan katakan, “Tuhan ada dalam hatiku”; tapi katakan, “Aku ada di hati Tuhan”
Dan jangan berpikir engkau dapat memilih jalan sendiri karena cintalah, jika ia berkenan, yang akan mengarahkan jalanmu.

Cinta tidak pernah berhasrat selain pemenuhan dirinya
Namun jika engkau mencinta dan harus memiliki hasrat, biarlah ini yang menjadi hasratmu :
Melebur diri dan menjadi anak sungai yang mengalir melantunkan nyanyian ke peraduan malam
Mengetahui sakitnya rasa kelembutan
Terluka oleh pemahamanmu sendiri tentang cinta;
Berdarah dengan ikhlas penuh suka cita
Terbangun di saat fajar dengan hati bersayap dan menghaturkan puji syukur untuk hari-hari yang penuh cinta;
Beristirahat di terik siang dan merenungkan puncak-puncak cinta
Pulang di petang hari dengan syukur sepenuh hati