October 12th, 2009
PROBLEMATIKA PRINSIP NON-DISKRIMINASI
DALAM NASKAH UU KESEHATAN
Oleh: I Wayan Gendo Suardana, S.H.*
Diakhir masa kerjanya, anggota DPR RI kembali menyentak kesadaran publik. Kali ini penyebabnya adalah pengesahkan Rancangan Undang-Undang Kesehatan menjadi Undeang-Undang pada Sidang Paripurna 14 September 2009 . Bukan hanya karena proses pembentukannya yang sangat tertutup juga karena RUU kesehatan yang disusun sangat diskriminatif dan cederung mengabaikan hak konstitusional dan HAM dari warga negara, bahkan pada saat pengesahannya pun dilakukan tanpan pandangan akhir dari fraksi-fraksi yang ada di DPR RI. Padahal dari sejak diajukan tahun 2000 sebagai bentuk revisi dari UU No 23 Tahun 2004, masyarakat mengharapkan RUU kesehatan ini menjadi salah satu produk kebijakan yang dapat memenuhi hak atas kesehatan setiap orang
Pengesahan RUU kesehatan masih banyak menyimpan permasalahan yang cukup mendasar dalam pemenuhan hak atas kesehatan warga negara. Terdapat beberapa pasal dalam naskah UU kesehatan ini yang bertolak belakang secara teori maupun norma HAM. Naskah UU Kesehatan ini cenderung menititkberatkan isu moral sebagai pedoman dalam pengaturan kesehatan. Alih-alih mendorong pemenuhan hak atas derajat kesehatan yang optimal bagi setiap warga negara, yang ada, negara/pemerintah malah terbebaskan dari kewajibannya untuk bertanggungjawab bagi penegakan HAM khususnya hak atas kesehatan.
Salah satu pasal yang diskriminatif terdapat pada Pasal 72 butir a. “Setiap orang berhak menjalani Read the rest of this entry »
October 7th, 2009


Kartun diambil dari:
http://artinbali.blogspot.com/
FAIR TRIAL BAGI KEBEBASAN PERS*
I Wayan Gendo Suardana**
Nasib buram selalu setia mengikuti para pekerja pers dalam menjalankan tugasnya. Sejarah selalu mencatat berbagai kriminalisasi, kekerasan bahkan berujung kepada kehilangan nyawa mendera para pekerja pers. Banyak nama yang tercatat telah menjadi korban akibat lemahnya perlindungan terhadap jurnalis (protect for journalist) dalam menjalankan tugas jurnalisme. Saat ini yang menimbulkan keprihatinan yang mendalam adalah pembunuhan terhadap wartawan A.A. Gde Narendra Prabangsa. Prabangsa dibunuh karena liputannya mengungkap kasus korupsi di Dinas Pendidikan, Bangli.
Ditengah semangat mewujudkan kebebasan pers yang tak kunjung membaik akibat semakin banyaknya regulasi yang berpotensi mengancam kebebasan pers, peristiwa pembunuhan terhadap A.A.Gde prabangsa sejatinya memberikan gambaran nyata bahwa ancaman terhadap kebebasan pers tetap nyata. Peristiwa ini pun memberikan semacam warning bahwa kekerasan-kekerasan terhadap profesi jurnalis masih menghantui. Dapat dipastikan hal ini membawa dampak buruk bagi jurnalis dalam menjalakan tugasnya, langsung atau tidak akan menimbulkan ketakutan massal di kalangan jurnalis. Tentu saja dapat mempengaruhi tingkat kekritisan jurnalis dalam pemberitaannya. Pers tidak lagi kritis, jurnalis memilih membuat berita “normal” dan sajian berita ke publik akan minim investigasi.
Dapat dibayangkan, betapa mencekamnya bila keadaan itu benar-benar terjadi. maka masyarakat akan Read the rest of this entry »
October 4th, 2009
Patriotisme, Ancaman Bagi Kebebasan
Oleh: Emma Goldman, 1911
Apakah patriotisme itu? Apakah cinta dengan tempat lahir seseorang, tempat seseorang mengenang masa kecil, mimpi dan aspirasinya? Dengan sebuah tempat, dimana kita dengan jiwa kekanak-kanakan memandang awan yang bergerak dan bertanya mengapa kita tak dapat begerak secepat awan itu? Dengan tempat dimana kita melihat bintang-bintang betebaran di langit? Dengan tempat dimana kita mendengar kicauan burung dan berangan-angan ingin bisa terbang seperti burung ke tempat nun jauh? Atau, apakah cinta dengan tempat kita dipangku ibu mendengar dongeng-dongengnya? Singkatnya, apakah patriotisme itu adalah cinta dengan setiap jengkal tempat dimana kita dibesarkan dan bermain, dimana kita dapat mengenang masa kecil yang penuh dengan kegembiraan?
Kalau itu adalah patriotisme, hanya sedikit orang Amerika yang bisa menjadi patriotik, karena tempat bermainnya sudah dibangun menjadi pabrik-pabrik dan dengungan mesin telah menggantikan musik (kicauan) burung.
Read the rest of this entry »
October 4th, 2009
KOTA DAN BUDAYA: RUANG PUBLIK, TITIK TEMUNYA?
Oleh:
Mudji Sutrisno
Diselenggarakan Atas Kerjasama
Goethe-Institut Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta
Jakarta, 16 April 2009
I. PENGANTAR
Ketika sebuah lapangan alun-alun kota Surakarta yang berdampingan bahkan menjadi perluasan tata kerajaan berperan sebagai tempat masyara-kat bertemu bersama dan kadang protes halus dengan menjemur diri (pépé) di hadapan raja, di sana penghayatan ruang bersama dilaksanakan dalam makna budaya atau kultural.
Penghayatan itu bermakna budaya karena maksud temu di ruang ber-sama merupakan ungkapan saling bertemu dengan artian nilai agar harmoni hidup bersama bisa dilangsungkan terus dalam perayaan-perayaan kerak-yatan sekatenan, perayaan pasar malem, lebaran, acara seni panggung bahkan menjelang peralihan abad ekonomis (dengan dikenalnya uang seba-gai nilai tukar dan nilai pakai sekaligus), ruang bersama alun-alun masih me-nyatu dengan peran “ruang dalam” istana (nDaleman), lalu ruang “benteng” dan rekatan istana, religi dan tempat kumpul masyarakat untuk oasis kebu-dayaan dan kesenian mereka.
Ada sebuah rekatan tata nilai yang saling mengutuhkan antara pusat ja-gat kuasa raja, religi (yang ketika Islam masuk lalu ada masjid kerajaan), serta lapangan alun-alun untuk segala keperluan ungkapan perayaan hidup bersama dalam seni dan kebudayaan.
Sejak kapan ruang bersama bergeser fungsi dan berubah posisinya?
Pertama, sejak pemaknaan ruang bersama digeser dari bingkai nilai kul-tural dan fungsi temu bersama Read the rest of this entry »
September 29th, 2009
PILKADA; MENYONGSONG DEMOKRASI SUBSTANSI*
Oleh: I Wayan “Gendo” Suardana, S.H.**
Setelah beberapa waktu lalu Pemilu 2009 usai digelar, tidak lama lagi, akan digelar hajatan pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di lima kabupaten/kota di Bali. Rata-rata Pilkada di lima kabupaten/Kota tersebut akan dilaksanakan pada tahun 2010. Agenda ini bahkan sedang direncakan oleh KPU Provinsi Bali untuk dilakukan secara serentak di lima daerah tersebut.
Sebagaimana yang diketahui, pilkada adalah hajatan dimana rakyat adalah subyek utama untuk memilih dan menentukan pemimpin daerahnya sebagai wujud dari pelaksanaan kedaulatan rakyat. Itulah esensi dari penyelenggaraan pemilihan umum termasuk pula penyelenggaraan Pilkada. Sehingga tidak dapat dibenarkan bila dalam penyelenggaraannya justru terdapat permasalahan yang mengebiri hak-hak konstitusional dari rakyat/warga negara.
Refleksi Pemilu 2009
Refleksi terdalam dari kenyataan ini ada pada pelaksanaan pemilu 2009 baik dalam pemilihan legislative maupun pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Banyak kritik yang terlontar menyikapi pelaksanaan pemilu kali ini terutama menyangkut manajemen Pemilihan Umum (Pemilu) 2009 dinilai terburuk di Indonesia selama ini. Kerja Komisi Pemilihan Umum (KPU) dinilai sangat tidak maksimal dan tidak profesional.
Kinerja yang buruk ini berakibat pada data pemilih yang amburadul, penyediaan logistik yang kacau, dan Read the rest of this entry »
September 29th, 2009
MARI MELAWAN TERORISME SECARA UTUH
(Tanggapan atas artikel I Made Mustika)
I Wayan “Gendo” Suardana, SH
Menarik mencermati artikel I Made Mustika yang berjudul “Setelah Noordin Tewas, Siapa menyusul” di harian Bali Express (19/09/2009). Secara garis besar tidak ada perbedaan pendapat saya dengan Saudara Made Mustika, namun ada beberapa pernyataan dalam artikel ini yang membuat saya cukup tergelitik untuk menanggapi. Terutama yang terkait dengan sub tema “kembali ke Pancasila”, dimana dalam pendapat saudara Made Mustika untuk mengajarkan kembali ke Pancasila dalam melawan terorisme terdapat kalimat yang cukup membuat saya merasa tertarik untuk memberikan tulisan tanggapan. “…Usulan ini bukan dimaksudkan untuk set back atau langkah mundur. Atau seolah-olah meniru Orde Baru. Jikapun dikatakan sebagai set back, sepanjang dapat meniadakan kemunculan teroris, maka saya anggap itu lebih baik (garis tebal dari penulis). Daripada malu mengajarkan Pancasila tapi muncul gerakan terorisme. Pilih mana?”
Pendapat tersebut saya garisbawahi dalam tulisan ini, karena menimbulkan interprestasi lain dipikiran saya. Pada dasarnya saya sepakat dengan sosialisasi Pancasila sebagai salah satu cara dalam menangkal terorisme di masyarakat. Namun frase diatas seolah-olah mengamini metode Orde Baru dalam pengajaran Pancasila asal meniadakan kemunculan terorisme (padahal dibeberapa paragraf yang lain, Saudara Made Mustika menyadari bahwa pola Orde Baru tersebut keliru). Pernyataan ini justru sangat substasial bagi saya untuk diberikan tanggapan, karena secara tersirat ada kekeliruan dalam memandang pelaku teror.
Mengenai definisi terorisme, sampai saat ini belum ada kesepakatan yang kuat mengenai hal tersebut. Bahkan PBB pun belum berhasil membuat definisi tentang terorisme. Namun secara umum istilah terorisme Read the rest of this entry »
September 8th, 2009
PEMILU 2009 DAN KEDAULATAN RAKYAT*
I Wayan “Gendo” Suardana, S.H. **
Sekapur Sirih
Bila memperhatikan catatan Ilmuwan politik Samuel P. Huntington bahwa, era transisi mestinya berakhir setelah ada dua kali pemilu berkala yang demokratis, dimana pemilu-pemilu tersebut mengantarkan suatu rezim demokratis, yang bekerja atas dasar konstitusi yang demokratis pula. (Samuel P. Hutington, 1991). Maka tidak dapat dipungkiri bahwa pemilu 2009 sesungguhnya mempunyai arti yang penting pasca jatuhnya rezim Orde Baru yang diikuti dengan Pemilu 1999 dan pemilu 2004.
Apabila merujuk pada catatan tersebut, maka sepatutnya pada tahun 2009 -ditandai dengan pelaksanaan Pemilu 2009- Indonesia sudah mulai mengakhiri masa trasisi demokrasi dan masuk ke era konsolidasi demokrasi, pada 2009 ini?
Perhelatan Pemilu 2009 dapat dikatakan telah selesai. Sebagian besar agendanya telah terlaksana dan hanya tinggal menyisakan pelantikan legislatif dan Presiden/Wakil Presiden saja akhir tahun ini. Namun posisi penting pemilu 2009 ini -sebagai penanda masuknya Indonesia ke tahap era konsolidasi demokrasi- Read the rest of this entry »
August 5th, 2009
Malaikat: “KUgendong Mbah Surip ke sisiNYA”
I Wayan “Gendo” Suardana
Suara riuh dari sebuah lapangan bola volley di tengah-tengah desa di Kuta Utara membuat konsentrasi saya buyar saat mengikuti sebuah pelatihan. Kebetulan tempat tersebut dekat dengan Lapangan Volley dimana disana digelar kejuaraan antar kampung. Apalagi pertandingannya digelar malam hari diiringi komentator amatiran yang mengiringi setiap aksi dari pemain volley melalui sebuah toa yang cukup membuat telinga seolah bengkak.
Namun di setiap jeda set dari sebuah pertandingan, pasti kepala saya bergoyang-goyang dan sambil senyum;
……Tak Gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
enak dong, mantep donk
daripada kamu naik pesawat kedinginan…
mendingan tak gendong toh..
enak to, mantep to..
ayo mau kemana…
yach, lirik lagu bergenre reagge ini membuat saya seketika enjoy. Tak terbayang hampir seluruh peserta pelatihan selalu bergoyang saat lagu ini diputar, padahal hanya didengar melalui sebuah Toa -soundsystem yang sebenarnya tidak cukup menghantar lagu untuk diperdengarkan secara nyaman-.
Awalnya memang saya tidak tertarik dengan lagu ini. Padahal sebelumnya saya beberapa kali saya sudah mendengarnya. Tapi waktu itu saya sama sekali tidak tertarik dan cenderung “mencemooh” lagu ini. Lirik lagu yang sederhana, suara serak yang keluar dari mulut seorang yang sudah uzur turut mempengaruhi cara pandang saya akan keunikan lagu ini. Saking tidak tertariknya, saya tidak ingat siapa yang menyanyikan, kecuali seorang kakek dengan dandanan ala Rastafara.
Hingga pada saat momentum pelatihan, justru saya baru bisa enjoy dan mulut saya komat kamit menirukan lagu itu. Sangat gampang, menirukan liriknya saking sederhannanya tapi begitu menghanyutkan. Dan keadaan ini sungguh kontradiktif. Saya justru menikmati lagu tersebut saat diperdengarkan dari sebuah Toa. Hmmm mungkin bukan masalah soundsystemnya tapi mungkin karena jiwa saya baru terusik tatkala melihat orang-orang begitu sumringah mendendangkan lagu ini. Saat itulah saya baru bisa mengenali bahwa lagu ini begitu asik, unik, justru karena kesederhanaannya dan dibawakan juga oleh kakek yang terkesan eksentrik tetapi tetap dengan balutan kesederhanaan.
Saat kepala saya bergoyang sambil tersenyum melihat tingkah polah temen-temen yang bergoyang mengikuti lagu tersebut, ups! saya baru tersadar, bahwa saya tidak tahu nama penyanyinya. Yach nama si kakek yang sempat membuat saya menyangka dia adalah orang gila dan bahkan sempat terpikir menuduh sang produser adalah orang yang tidak mengerti musik karena mau merekam dan menampilkan lagu yang tidak bermutu.
Seketika itu pula saya bergegas bertanya kepada seorang kawan. Begitu saya menanyakan nama penyanyinya, kawan saya tertawa terbahak-bahak sambil mengejek,:”jadi kamu selama ini kamu goyang-goyang kepala ngapain?”, begitulah dia berkata sembari memberitahu saya bahwa penyanyi itu bernama Mbah Surip.
Sejak saat itu saya nulai tertarik dengan Mbah Surip sehingga saya searching sosok Mbah Surip di internet. Mmmm sosok yang demikian misterius, semakin membuat saya sering mengikuti beritanya. Sampai kemudian seorang teman yang mengirimkan SMS dan memberitahukan sosok itu meninggal dunia. Saya kaget, rasanya belum puas saya menyusuri kehidupannya ternyata dia telah pergi. Seperti tersentak, saya terbawa oleh sebuah ingatan entah beberapa lama waktu ke belakang. Sepertinya saya beberapakali menjumpai sosok tua berambut gimbal di Wapres (warung Apresiasi) Bulungan, mmm mungkinkah itu Mbah Surip?
Ah, saya tidak mau terhanyut lebih lama.
Mbah, kemarin banyak artis yang telah kamu gendong, banyak orang yang kamu mau gendong dengan lagumu, tetapi saat ini ditengah semua orang berharap kamu gendong dengan nyanyianmu ternytaa mereka sudah harus mengendong jasadmu.
Selamat Jalan Mbah Surip.
Semoga malaikat menggendongmu samapai disisiNYA.
Diatas bumi, 5 Agutus 2009
July 31st, 2009
[Surat Seorang Kawan];
Kami Tidak Takut. Huh?*
dari: Rudolf Dethu
Kerabat Puspawarna,
Saya perhatikan belakangan ini berbondong-bondong orang di sekitar saya—kebanyakan anak muda—menggabungka n dirinya di Indonesia Unite, sebuah komunitas yang dibentuk untuk merespons peristiwa bom Ritz-Marriot 17 Juli 2009 sekaligus menyebarkan semangat anti terorisme. Saat tulisan ini dibuat, sudah lebih dari 170 ribu orang menjadi anggota Indonesia Unite di Facebook. Komplet dengan limpah ucapan-ucapan berbau nasionalisme di Wall-nya. Sungguh mencengangkan lagi membanggakan bagaimana sejawat se-Nusantara membusungkan dada menunjukkan kecintaannya pada negara bernama Indonesia, bahu membahu melawan penjahat HAM berkedok agama bersenjatakan bom, seraya penuh patriotisme berteriak: Kami Tidak Takut!
Kami tidak takut. Huh? Ini masalahnya. Saya kurang paham apa sejawat, sobat, kerabat, saya itu benar-benar tidak takut dengan bom yang mematikan tersebut. Saya pribadi mah masih sedikit menggigil merinding dan agak trauma dengan peristiwa mengerikan itu (ketika Bom Bali I saya berada hanya lusinan meter dari lokasi ledakan bom dan menyaksikan sendiri semburan api nan masif & merasakan gelegarnya yang gigantik). Hanya saja mungkin karena ledakan bom di negara ini sudah jadi makanan sehari-hari, makanya saya, dan mungkin juga rekan-rekan di Indonesia Unite, merasa bahwa peristiwa bom adalah semacam “same shit different day” alias sudah terbiasa. Read the rest of this entry »
July 12th, 2009
NEOLIBERALISME DAN PENGALAMAN INDONESIA
Anto Sangaji
PENGANTAR
NEOLIBRALISME, sering dipertukarkan dengan fundamentalisme pasar (market fundamentalism) (Stiglitz, 2006:576), menjadi kata yang populer saat ini. Menjelaskannya tidak mudah, tetapi kalau ada kata lain yang bisa dipakai untuk menggantikannya agar mudah dipahami secepat kilat, maka pilihannya mungkin jatuh pada kata ‘kemerdekaan’ atau ‘kebebasan’ (freedom). Ada alasannya, karena Milton Friedman, penerima nobel tahun 1976 dan penulis buku ‘Capitalism and Freedom,’ yang dianggap salah seorang penggagas ide-ide neoliberalisme, menjadikan freedom sebagai hal paling pokok dalam gagasan-gagasannya. Di buku tersebut, dia menandaskan bahwa kemerdekaan ekonomi adalah keharusan menuju kemerdekaan politik (Friedman, 1962).
Tetapi freedom adalah kata yang mengundang banyak tafsir, tergantung siapa yang menafsirkan. Seperti kata Matthew Arnold ‘freedom is a very good horse to ride, but to ride somewhere’ (dikutip oleh Harvey, 2005:6). Ketika di tahun 2005, sekelompok kelas menengah terpelajar di Jakarta, misalnya, memanfaatkan ruang terbuka reformasi, dengan bebas memasang iklan mendukung kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, sebuah program di bawah payung neoliberalisme. Itu adalah freedom, bukan karena beberapa orang di antara mereka adalah aktivis ‘Freedom Institut,’ tetapi itulah contoh sederhana apa itu kemerdekaan berpendapat, tergantung siapa yang melakukannya.
Read the rest of this entry »
|
|