Survivor; Perempuan itu…? [1] 21


Survivor; Perempuan Itu…? [1]

Oleh: I Wayan “Gendo” Suardana

“Yan, kamu pegang daun ini, nanti setiap 10 ekor belut kamu belah kecil daunnya ya”, demikian kata seorang perempuan di sore hari kepada anaknya, saat akan menghitung belut yang akan dijual ke pasar keesokan harinya.

Inilah aktivitas yang kerap dilakukan setelah perempuan itu datang dari pasar di sore hari, -tentu setelah mandi dan mengisi perutnya-. Tidak nampak gurat keletihan diwajahnya, walaupun bangun jam empat subuh memasak makanan untuk anaknya sembari menyiapkan dagangannya yang akan dia angkut kira-kira sejam kemudian.

Berkemben batik berbaju kaos, jarak 3 kilometer dilakoninya dengan berjalan kaki ke pasar induk, berbelanja barang tambahan dan selanjutnya naik angkutan kota menuju pasar cabang. Lalu menggelar menggelar dagangannya dari pagi sampai sore hari. mengemas dagangannya -entah habis atau tidak- lalu berjalan pulang melewati jalan lain -melewati persawahan sebagai jalan pintas dari pasar cabang- menuju kerumah.

Tak lupa perempuan itu akan membeli penganan -sekedar kue atau makanan ringan lainnya-, karena dia sudah dapat memastikan bahwa anak laki-lakinya akan menunggu kedatangannya. “Meme (ibu), mana oleh-olehnya buat Wayan”, bocah kecil itu berteriak-teriak kegirangan melihat kedatangan ibunya, sembari melompat-lompat berusaha meraih baskom yang diusung sang ibu, seolah tidak sabar untuk mendapatkan bingkisan. Perempuan itu tersenyum sambil mengingatkan,: sabar ya nak, sabar”.

Tapi seolah tuli, bocah kecil itu terus mendesak ibunya. hmm rupa-rupa si bocah ketakutan, karena disampingnya juga ada paman-pamannya yang kerap menggoda si bocah, bersikap seolah-olah mau memperebutkan isi dari baskom yang dibawa ibunya “hus..sudahlah! Nyoman sama Darma..kamu seneng sekali menggoda si Wayan! sudah jangan diganggu lagi, nanti nangis lagi kita juga yang susah”, demikian perempuan itu mengingatkan saudara-saudaranya untuk berhenti menggoda anaknya.

Itulah suasana sore yang yang terjadi setiap perempuan itu puang dari pasar. Mungkin suasana ramai yang penuh kekerabatan itu pula yang membuat perempuan ini begitu sumringah sedikitpun tidak menampakan kelelahan. Hidupnya seolah lengkap, tidak kurang apapun.

Sebagai seorang janda beranak satu, karena sang suami meninggal -karena ditabrak truk- tepat ketika anak laki-laki semata wayangnya berumur dua tahun. Perempuan ini sungguh luar biasa. Bukan hanya status janda beranak satu yang disandangnya, tapi buta huruf dan menyandang penyakit kulit menjadi beban yang lain yang menggelayuti tubuh dan jiwanya.

Iya, penyakit kulit yang diderita perempuan ini sejak masih kecil sehingga menyebabkan dia harus berhenti sekolah tepat kelas 3 SD. Perempuan yang malu bersekolah karena kepalanya digundul untuk mengobati sakitnya yang tak kunjung sembuh hingga akhir hayatnya.

Putus sekolah karena tidak tahan menanggung malu akibat diejek teman-teman sekolahnya, seraya bernyanyi,:”gundul-gundul pacul cul….”. Itulah lagu yang sering diperdengarkan kepada perempuan itu. yang menyebabkan dia tidak tahan dan memutuskan berhenti sekolah. akibatnya dia menjadi perempuan yang tidak bisa baca tulis. kemampuannya hanyalah membaca dan menuliskan angka.

Bocah kecil itu begitu lahap dengan penganan yang dibawakan oleh ibunya. sembari makan dia duduk manja dipangkuan ibunya dan tidak perduli bahwa ibunya sangat lelah. perempuan itu mencoba bijak menerima perlakuan anaknya. mungkin dia berpikir, bahwa wajar saja anaknya begitu karena sepanang hari si bocah tidak bertemu dengannya.

Namun demikian, tak jarang karena terlalu capek, perempuan itu memarahi si bocah dan menyuruh agar anaknya mengerti bahwa dia sedang capek. Si bocah sering tidak bisa terima keadaan itu, sampai akhirnya sang nenek datang dan mengajak si bocah untuk bersama dia. ya memang dengan keadaan, dimana perempuan ini pergi mencari nafkah seharian dimana si bocah sedang terlelap tidur, perannya sebagai seorang ibu bagi si bocah diambil alih oleh ibu dari perempuan itu.

tidak terasa sudah 20 sobekan kecil daun pisang yang dikerjakan si bocah. itu tandanya sudah ada 200 ekor belut yang akan dijual esok paginya. perempuan itu berdiri dari duduknya, lalu mengangkat baskom besar itu untuk ditaruh ditempat yang aman.

Lalu perempuan itu bergegas ke Bale Gede (balai timur) untuk mengambil pisang yang telah dimatangkan dengan karbit. dibawa lagi ketempat semula [ada saat dia menghitung belut. si Bocah juga masih membantu ibunya untuk menghitung pisang yang akan dijual keesokan harinya. setelah selesai, pisang tersebut ditaruh di tas anyaman tenteng. besok pagi perempuan ini terlihat berjalan dengan tas berisi pisang ditangan kanan dan mengusung baskom besar berisikan 200 ekor belut.

“Yan…kesini yan!”, perempuan itu memanggil anaknya setelah selesai menyiapkan dagangannya. Si Bocahpun bergegas mengikuti panggilan ibunya dari dalam kamar. Lalu aktifitas menghitung uang recehan Rp. 100 adalah rutinitas yang tidak pernah terlewatkan. lalu mereka berdua menghitung recehan tersebut, kurang lebih dengan pembagian perang yang sama.

Begitu besar energi perempuan itu. entah kenapa tiada waktu yang banyak dia gunakan untuk istirahat. Sehabis menghitung uang dagangannya, perempuan itu masih bisa membantu ibunya untuk mejejahitan -membuat bahan upacara agama hindu dari bahan janur-. Entah berapa lama kegiatan itu dilakukan. Yang jelas si Bocah lelap ditempat tidurnya. lalu akan disusul satu persatu oleh ibu dan neneknya untuk menuju peraduan, karena proses itu akan-terulang terus menerus menjadi rutinitas hidup dari seorang perempuan dengan anak laki-lakinya.

bersambung…

Jakarta, 22 Maret 2009

pukul 06.16 AM


Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

21 thoughts on “Survivor; Perempuan itu…? [1]

  • Gus Kp

    Aq yakin anak itu aku kenal ndo, temen sekolahku..
    anyway, live is about to change and anak itu ketika besarnya akan jadi seseorang.

  • leana

    ceritana ngingetin jak me2k jumah.. wah.. ibu emang mantap bngt perjuanganna…tulisanna sederhana.. realita bngt… tantangan nie bwt qt2 bs gak ngambil hikmahna.. semangat yg tulus n kerja keras dr si ibu.. btw ade sing anak bajang jani ngidang care keto ah???
    SEMANGAT bli!!!!

  • brumbun

    walah….curhat nih? tak kira cerita habis jalan2 kemana gitu. salah sangka dong cang waktu kita chat kemarin. tapi tetep aja bisa dijual tuh ndo. kali aja bisa jadi sinetron.
    oke bgt.

  • hilda

    perempuan..hebat..entah tenaga dari mana tapi banyak cerita dan living proof yang memperlihatkan kepadaku betapa kuatnya daya tahan dan daya juang perempuan.
    will I be that person with such endurance and such spirit to live daya after day and live night by night???

    diterusin ceritanya ya beli’..aku yakin berapapun tantangan, masalah dan hambatan yang menghadang seorang perempuan pasti akan selalu ditemukan cara untuk menyelesaikannya dan bertahan dari segala masalah dan hambatan itu… look 4ward next story…

  • alien

    luar biasa, kisah perempuan-perempuan yang energinya begitu besar. bukan cuma untuk dirinya, tapi juga anak, keluarga dan komunitasnya. tengok juga, bagaimana perempuan dalam kisah ini menjadi bagian penting dari pelanggeng reproduksi sosial yang bernama adat istiadat.

  • Anggi

    Semakin sadar bahwa sebagai seorang anak saya tidak akan pernah bisa membalas pengorbanan, perjuangan dan kasih seorang ibu yang adi luhung. Perempuan memang kuat dalam menghadapi hidup dengan caranya sendiri-sendiri. Terus menulis Gendo ini bakat yang luar biasa yang harus dikembangkan.

  • Broklyn

    Sip..Sip…Sip… Cerita yang sangat menyentuh dan beberapa hal mirib dg yang dilakoni meme saya dirumah,Te.O.Pe Bgt, Folosinya membuat saya tersentak flas back kemasa lalu… mengingatkan Perjuangan seorang ibu yang tak kenal lelah dan tak pernah menyerah…!!!
    demi anak-anaknya !!! Thanx
    Buruan lanjutannya Bos…????

  • Dayu Rupini

    Ceritanya bagus, ini perlu dibaca oleh semua kalangan, karena tidak semua penyakit yang menular merupakan penyakit kutukan dan harus di takuti,untuk merubah karakter dan bentukan-bentukan yang merugikan orang banyak harus dapat di perbaiki……….
    kalau tidak dari sekarang di rubah kapan lagi,biar ada warisan untuk anak cucu kelak….
    Lanjutannya di tunggu?????

  • vera luqyana

    mas thanks bgt tulisannya bisa jadi semangat aku untuk hidup lebih lama lagi karena aku pengin liat anakku jadi seorang yang tidak menjadi benalu untuk orang lain

  • lely

    do’ aku jadi ingat ma ibuku (alm), ah pak de..bikin aku jadi sedih tauuu, btw salute, enggal nae gae lanjutane….yang seru nah..